Sabtu, 17 September 2016

#pulang

Lampu-lampu itu masih tetap memainkan peran yang sama; sekadar berkelip, tapi tak tahu arah mana yang harus diteranginya. Hingga malam itu, di usia yang hampir menginjak angka yang sama dengan nama Bioskop-bioskop beken di kota-kota besar, saya masih juga belum mendapatkan jawaban pasti. Tapi kalau memang hanya penasaran yang berulang, maka “The sweety laugh in a middle of twilight” begitu ujar seorang teman, yang hari itu pertama saya lihat sepanjang hidup menguatkan kesan sanggahan untuk opini tersebut: ini bukan penasaran.

Hingga dini hari, hujan terus mengguyur. Sengaja saya buat kaca mobil menjadi blur oleh The Sky Is Crying yang turun lebih malu-malu ketimbang 6 jam sebelumnya. Apakah masih ada bus kota yang melintas di malam selarut itu untuk mengantar si gadis pulang? Lalu dimanakah ia dan kereta anginnya berteduh? Di emperan toko? Atau kedai-kedai kopi kekinian yang sudah tutup hanya berlatar lampu temaram? Kekhawatiran akan liarnya malam itu jika sampai hati menjamahnya kian membuat kepala ini terasa seperti hendak meledak. Klimaks; mencapai nada tertinggi dari alunan blues malu-malu yang menggema di kepala.
Layaknya diam, kadangkala malu juga bisa menjadi emas. Minimal perak atau perunggulah. Tapi opini asas pembelaan untuk sifat mendasar dalam diri ini mulai terbantahkan. Saya tidak ingat bagaimana struktur kalimat yang menghancurkan buah pemikiran yang tumbuh bertahun-tahun di kepala, dan mungkin sudah menjalar hingga ke batin dan darah. Hanya yang jelas, kalimat terakhir yang dilontarkan seorang sahabat kepada saya disela cerita singkat sebelum kami berpisah pulang meyakinkan saya; “Paling kalau ditolak lagi, lu diketawain.” seraya menepuk pundak dan melambaikan tangan tanda jumpa lagi setelah akhir pekan usai.

Blues malas itu masih juga hinggap di kepala. Hingga lampu emergensi saya hidupkan dan berhenti sekilas.
“Kenapa tiba-tiba sudah di Jakarta? Bukannya jarak rumah saya hanya sepuluh kilometer dari pusat Kota Bandung? Ah, sial! Sudah berapa jam saya melamun dan berputar-putar di jalanan?”
Ya, melamun memang selalu menyesatkan.

***

Jalan, Lengkong Besar, Bandung - Februari 2016, 04.49 WIB.

Jumat, 05 Agustus 2016

Punya Gebetan Artis? Oh, Kenapa Tidak?

Satu musim nyaris terlewati. Tercatat di pertengahan Agustus 2015 silam, saya ditolak cinta (lagi) untuk yang ke-22 kali secara beruntun. Saking meriahnya euforia penolakan yang awalnya saya kira tidak akan pernah terjadi (karena melihat respon si Doi yang amat sangat positif, kendati ternyata hanya sayang sebagai sahabat, katanya..) alhasil kegagalan yang melampaui 3 angka dari usia saya saat itu (19 tahun, 10 bulan) menuai simpati dari beberapa teman yang mengirim hadiah berupa foto senja yang indah buat saya dengan cara menguploadnya ke Instagram dan memberi tag atau mention ke akun saya dengan hastag #Fantastic22.

Senin, 07 Maret 2016

Pertunjukan Dua Warna

Pernahkah kalian berfikir tentang dua warna? Hitam, dan putih. Sisanya gugur. Beberapa orang, termasuk aku pernah jatuh cinta sekaligus di beberapa sisi hanya dari dua warna tadi. Jadi, siapa bilang Hitam-Putih itu simpel? Ada kalanya warna diperlukan untuk memahami gambar secara meluas, melebar kesamping. Lalu bagaimana peranan Hitam Putih? Ya, untuk memaknai gambar secara mendalam (jauh lebih merasuk).

Senin, 01 Februari 2016

BAB I: Seperti Kutukan (Draft Nulis 2014)


GAK NYANGKA kalau ternyata gue masih bisa galau. Padahal gue udah berpuluh-puluh kali digalauin cewek. Soal penolakan-penolakan, penikungan-penikungan, dan semua yang berbau kegagal totalan gue dalam ngedeketin cewek udah gue alamin. Dari kejadian paling wajar sampai ironis. Dari ditolak karena friendzone sampe diusir bokap gebetan, semua pernah gue alamin. Harusnya gue udah terlatih. Tapi yang gue bingung, kenapa gue masih harus galau saat gebetan gue foto bareng sama cowok yang dia naksir terus dia upload ke instagram?

Minggu, 24 Januari 2016

Pentingnya Menggunting SIM Card Sebelum Membuangnya

Akhir-akhir ini, perkembangan teknologi yang kian mamprang di kalangan masyarakat Indonesia nampaknya membuat produksi simcard atau kartu sim dari penyedia layanan provider makin meningkat. Saya tidak sampai survey sih, cuma kalau melihat fakta di lapangan, pengguna handphone zaman sekarang saat membeli kartu perdana lebih mementingkan isi kuota internetnya ketimbang nomornya.

Selasa, 19 Januari 2016

Obrolan Sebelum Maghrib.

Menjelang matahari terbenam, aku dan tiga orang terlibat percakapan santai. Dua orang lelaki, aku, dan seorang wanita. Entah aku yang terjebak, entah memang ini berjalan seperti seharusnya. Hanya sebelumnya, aku tak menyangka kehebatan gambar benar-benar membuatku jatuh hati. Apa aku gila selama berbulan-bulan ini memuja gambar? Dan tak seorang temanpun kuberitahu tentang hal ini.

Senin, 11 Januari 2016

Selamat Datang 2016!

Menghirup Udara 2016 adalah hal yang paling saya syukuri. Alhamdulillah. Resolusi saya, sebenarnya masih sama seperti saat Blog ini pertama dibuat: menjadi pencerita.

Semoga alur Cerita menarik berpihak pada kita semua di Musim Yang Baik ini! #bogohyanghakiki