Minggu, 24 Januari 2016

Pentingnya Menggunting SIM Card Sebelum Membuangnya

Akhir-akhir ini, perkembangan teknologi yang kian mamprang di kalangan masyarakat Indonesia nampaknya membuat produksi simcard atau kartu sim dari penyedia layanan provider makin meningkat. Saya tidak sampai survey sih, cuma kalau melihat fakta di lapangan, pengguna handphone zaman sekarang saat membeli kartu perdana lebih mementingkan isi kuota internetnya ketimbang nomornya.


Tidak terkecuali saya. Sejak pertama kali dikasih handphone android sama babeh di awal 2014, pengeluaran pulsa saya yang biasanya sehari kisaran 2 ribu sampai 5 ribu sepertinya harus dikalkulasi lagi. Kita semua pasti tahu bedanya blackberry dengan android lah ya. (Kalo ada yang gak tau sih parah hahaha). Ya intinya, menggunakan smartphone di jaman sekarang pasti membuat kita sering mengganti simcard. Tapi saya mau samakan persepsi dulu ya. Kita disini adalah kaum Mahasiswa Kere yang gak mampu beli kuota yang sekarang mahalnya naudzubillah. Tahun 2014, Untuk akses internet 12 GB, harganya masih 50ribu. Itu providernya Simpati. (Karena saya bukan artis endorse, jadi saya blak-blakan ajalah).

Harga simpati sekarang mencapai 115 Ribu, itu kuotanya 16 GB. Tercukupi sih semua kebutuhan. Tapi dipikir-pikir, sayang juga ini duit. Hahaha. Saya menjatah pemakaian kuota saya perbulan itu maksimal 50 ribu. Kalaupun ditengah bulan ternyata kurang, itu bisa diakali dari duit jajan harian yang saya tabung 5 ribu perhari. Pokoknya saat uang bulanan turun, alokasi pulsa hanyalah 50 ribu.

Untuk mengakali hal tersebut, maka selama satu bulan saya beli kartu perdana bisa dua kali. Tanggal muda beli kuota 3 atau 4 GB yang harganya 50 ribu. Nanti habis tanggal 20-25an. Untuk menyambung sampai awal bulan, saya beli lagi perdana dengan kuota kecil (2 GB, yang harganya 20ribuan).

Sudah setahun ini (Sejak tahun 2015), saya rutin ganti kartu sebulan dua kali. Fitur dual simcard yang ditawarkan android android era ini membuat saya leluasa ganti kartu tanpa takut dimarahi Ibu karena pusing mau telfon kemana. Ya, karena yang diganti cuma sim dua nya saja. Sim satu sih stabil, saya pakai nomer yang lama.

Sejak pertama pakai android sampai detik ini, mungkin sampai 30 kali lebih saya ganti kartu sim 2, dan kartu yang sudah tidak dipakai saya buang asal saja. Dimana saja.

Baru-baru ini, saya kaget baca SMS dari Ibu saya:

"Bang, jam 3 subuh kamu minta pulsa ya?"

Wah, saya jawab tidak saja, dan saya tanya dulu sama Ibu saya itu nomer yang mana yang SMS begitu ngaku-ngaku saya.

Ibu saya bilang nomernya adalah 08xxxxxxxxx

Kendati banyak gonta ganti kartu, alhamdulillahnya saya diberi ingatan yang tidak lemah-lemah amat nih wahai pembaca yang bijaksana. Hahaha. Dan saya ingat nomor yang disebut Ibu saya di SMS itu memang nomor saya. Lagipula, nomor itu memang sempat saya tidak ganti selama tiga bulan karena saat itu ada promo dari providernya kalau nomor tadi aktif tiga bulan. Dan kalau kuotanya habis kita bisa beli kuota tambahan dengan harga yang lumayan (60 ribu untuk 6 GB). Kalau beli paket biasa, 60 ribu paling hanya kebagian 3 GB. Yang 4.5 GB saja sudah 75 ribu. Saya pikir lumayan. Sebagai anak kost, seperti kata Kang Soleh Solihun, kita harus memiliki jiwa Champ Bastard alias Pria pelit. Hahaha.

Saya jawab saja itu bukan nomor saya. Kartunya sudah saya buang sejak Desember 2014. Saya santai saja. Ah paling juga nomornya dipungut orang, terus salah sambung. Pikir saya. Karena Ibu saya SMS pagi sekali, saya putuskan untuk lanjut tidur saja. Haha. (Mumpunglibur)

Setelah seharian berkegiatan (malas-malasan di indekos), Ibu saya sms lagi jam 11 malam. Katanya bilang kalau nomor tadi kirim SMS yang tidak sopan sama Ibu saya. Selain itu, beberapa teman saya juga komplain kalau nomor saya yang itu meresahkan mereka. Ada yang bilang minta transfer lah, minta pulsa lah, dan yang terakhir adalah ngajak kencan lalu ML ke temen saya!!!

Mungkin orang ini gila.

Saya menaruh curiga terhadap beberapa orang-orang di daerah tempat saya membuang simcard tersebut. Memang di daerah itu, psikologis orang-orangnya masih primitif menurut saya. Terlalu fanatik. Tapi biarlah, biar Gusti Allah yang akan membalas perbuatan mereka kelak.

Dari cerita saya diatas, maka penting sekali bagi kita (sesuai presepsi) untuk hati-hati dalam menjadi pelanggan setia kartu perdana. Mungkin kejadian ini mengilhami saya untuk jadi Smart-Using (kali) haha dalam menggunakan kartu perdana. Adapun beberapa tips agar Kalian jauh dari marabahaya kendati sering gonta ganti kartu:

1. Potong simcard kalian saat hendak ganti kartu.
2. Jangan dibuang ke tong sampah.
3. Kalau terlanjur kejadian dan sampai mencoreng nama kamu. Jangan panik. Datangi gerai provider kartu kamu, dan minta nomor tersebut untuk dinonaktifkan.
4. Smart. Kalau temen kamu yang kena kejadian tadi, dan nomornya menghubungi kamu via SMS. Jangan langsung percaya itu temen kamu. Kroscek ulang. Inilah fungsinya menghafalkan dan memahami gaya pengetikan tiap orang.
5. Pahami gaya pengetikan orang sebelum menyimpulkan kalau SMS itu dari siapa.
6. Kalau sampai sangkut pautnya sama uang, transferan, dan lain-lain yang urusannya dengan pidana. Jangan ragu untuk lapor polisi!

Dan, cerita saya hari itu berakhir dengan Happy Ending. Nomornya saya blokir permanen ke gerai resmi provider. Lalu sepulang dari sana, saya ngopi di Waroeng Bandoeng sambil nulis cerita ini. Soal temen yang kena jahil, amaan! Semua sudah memaafkan saya. Dan temen-temen saya juga smart semua. Haha, temen-temen saya sih tahu betul kalo bercandaan saya itu bercandan smart, gak kampungan kayak si penemu simcard saya. Misalnya ngajak ML via SMS gitu. Pantes aja gak laku. Hahaha udah ah, ntar jadi saya yang dosa.

Sampai Jumpa! Jabat Erat!!