Lampu-lampu itu masih tetap memainkan peran yang sama; sekadar berkelip, tapi tak tahu arah mana yang harus diteranginya. Hingga malam itu, di usia yang hampir menginjak angka yang sama dengan nama Bioskop-bioskop beken di kota-kota besar, saya masih juga belum mendapatkan jawaban pasti. Tapi kalau memang hanya penasaran yang berulang, maka “The sweety laugh in a middle of twilight” begitu ujar seorang teman, yang hari itu pertama saya lihat sepanjang hidup menguatkan kesan sanggahan untuk opini tersebut: ini bukan penasaran.
Hingga dini hari, hujan terus mengguyur. Sengaja saya buat kaca mobil menjadi blur oleh The Sky Is Crying yang turun lebih malu-malu ketimbang 6 jam sebelumnya. Apakah masih ada bus kota yang melintas di malam selarut itu untuk mengantar si gadis pulang? Lalu dimanakah ia dan kereta anginnya berteduh? Di emperan toko? Atau kedai-kedai kopi kekinian yang sudah tutup hanya berlatar lampu temaram? Kekhawatiran akan liarnya malam itu jika sampai hati menjamahnya kian membuat kepala ini terasa seperti hendak meledak. Klimaks; mencapai nada tertinggi dari alunan blues malu-malu yang menggema di kepala.
Layaknya diam, kadangkala malu juga bisa menjadi emas. Minimal perak atau perunggulah. Tapi opini asas pembelaan untuk sifat mendasar dalam diri ini mulai terbantahkan. Saya tidak ingat bagaimana struktur kalimat yang menghancurkan buah pemikiran yang tumbuh bertahun-tahun di kepala, dan mungkin sudah menjalar hingga ke batin dan darah. Hanya yang jelas, kalimat terakhir yang dilontarkan seorang sahabat kepada saya disela cerita singkat sebelum kami berpisah pulang meyakinkan saya; “Paling kalau ditolak lagi, lu diketawain.” seraya menepuk pundak dan melambaikan tangan tanda jumpa lagi setelah akhir pekan usai.
Blues malas itu masih juga hinggap di kepala. Hingga lampu emergensi saya hidupkan dan berhenti sekilas.
“Kenapa tiba-tiba sudah di Jakarta? Bukannya jarak rumah saya hanya sepuluh kilometer dari pusat Kota Bandung? Ah, sial! Sudah berapa jam saya melamun dan berputar-putar di jalanan?”
Ya, melamun memang selalu menyesatkan.
***
Jalan, Lengkong Besar, Bandung - Februari 2016, 04.49 WIB.
Hingga dini hari, hujan terus mengguyur. Sengaja saya buat kaca mobil menjadi blur oleh The Sky Is Crying yang turun lebih malu-malu ketimbang 6 jam sebelumnya. Apakah masih ada bus kota yang melintas di malam selarut itu untuk mengantar si gadis pulang? Lalu dimanakah ia dan kereta anginnya berteduh? Di emperan toko? Atau kedai-kedai kopi kekinian yang sudah tutup hanya berlatar lampu temaram? Kekhawatiran akan liarnya malam itu jika sampai hati menjamahnya kian membuat kepala ini terasa seperti hendak meledak. Klimaks; mencapai nada tertinggi dari alunan blues malu-malu yang menggema di kepala.
Layaknya diam, kadangkala malu juga bisa menjadi emas. Minimal perak atau perunggulah. Tapi opini asas pembelaan untuk sifat mendasar dalam diri ini mulai terbantahkan. Saya tidak ingat bagaimana struktur kalimat yang menghancurkan buah pemikiran yang tumbuh bertahun-tahun di kepala, dan mungkin sudah menjalar hingga ke batin dan darah. Hanya yang jelas, kalimat terakhir yang dilontarkan seorang sahabat kepada saya disela cerita singkat sebelum kami berpisah pulang meyakinkan saya; “Paling kalau ditolak lagi, lu diketawain.” seraya menepuk pundak dan melambaikan tangan tanda jumpa lagi setelah akhir pekan usai.
Blues malas itu masih juga hinggap di kepala. Hingga lampu emergensi saya hidupkan dan berhenti sekilas.
“Kenapa tiba-tiba sudah di Jakarta? Bukannya jarak rumah saya hanya sepuluh kilometer dari pusat Kota Bandung? Ah, sial! Sudah berapa jam saya melamun dan berputar-putar di jalanan?”
Ya, melamun memang selalu menyesatkan.
***
Jalan, Lengkong Besar, Bandung - Februari 2016, 04.49 WIB.
