Rabu, 25 Juni 2025

2025

Awan pulang terlunta. Platform juga terlunta..

Mari coba lagi. #Mamanawian

Rabu, 28 November 2018

#BTS Vol 1: Mata Pelajaran


Hanya di SSB
PR Matematika tak se-menyeramkan hafalan Major atau Piano Wajib…

Saat teman-teman sebaya saya takut terjerumus di jurusan IPA saat penjurusan SMA dan berharap bisa masuk ke penjurusan IPS karena menghindari mata pelajaran matematika, maka saya tak merasakan fase itu: ya, di seni pertunjukan, mau IPA mau IPS, rasanya semua dianggap tak penting. Haha.

Minggu, 08 April 2018

Bismillah: Budjang The Story!

Untuk kali pertama nama blog ini berubah; awalnya manusiakribo.blogspot.com kini menjadi budjangthestory.blogspot.com. Sebuah kejadian mengilhami saya di awal Maret 2018.

Adalah Merdeka, seorang teman di kampus yang menyarankan saya untuk lebih serius menulis. Saya sendiri malu melihat histori tulisan sejak tahun 2011 sampai 2018, saya hanya bilang kangen dan kangen nulis, tapi saya tak pernah menjemput kerinduan tersebut. Hahaha. Obrolan dengan Merdeka itulah yang meyakinkan saya untuk sedikit demi sedikit memperkenalkan tulisan saya ke luar.

Saya sebenarnya sering menulis. Hanya, bukan tulisan panjang seperti roman atau novel. Saya menulis untuk kebutuhan caption instagram saja. Belakangan, muncul fitur instagram story yang juga banyak diisi oleh tulisan-tulisan panjang dan njelimet yang saya bikin.

Begitupula kegiatan menulis dan menerbitkan tulisan yang berdasarkan pengalaman saya; sebuah cita-cita masa remaja yang tak kunjung tercapai juga karena saya lebih sering sok sibuk. Hahaha.

Akan tetapi, materi untuk kumpulan tulisan saya yang kelak akan saya beri judul: "Budjang!" The Story ini sudah terkumpul, meski secara tata bahasa belum layak untuk dimuntahkan ke publik. Namun apa salahnya membiasakan dulu mata dan perasaan pembaca untuk siap membaca kisah saya, betul tidak? Untuk itu, perlahan saya akan menyelipkan beberapa sub-fragmen dari "Budjang!" The Story (selanjutnya akan disingkat menjadi BTS) disini. Ya, maksudnya di blog ini. Boleh kan? Boleh dong.

Obrolan dengan Merdeka itu pula yang menyadarkan saya; saya ini sebenarnya bisa menulis. Hanya saja saya agak pemalas. Untuk itu, saran Merdeka untuk saya, yaitu rajin menulis untuk kebutuhan BTS dan mengunggah beberapa sub-fragmen BTS ke blog pribadi akan saya mulai di bulan ini. Supaya teman-teman bisa perlahan mengenali isi cerita saya kalau bukunya sudah jadi. Huehehe.

Semua tulisan dengan tagar #BTS pada judulnya, tulisan itulah yang merupakan bagian dari fragmen BTS yang semoga bisa saya rampungkan di tahun 2018 ini.

Jadi, sampai jumpa di tulisan berikutnya teman-teman!

Sabtu, 17 September 2016

#pulang

Lampu-lampu itu masih tetap memainkan peran yang sama; sekadar berkelip, tapi tak tahu arah mana yang harus diteranginya. Hingga malam itu, di usia yang hampir menginjak angka yang sama dengan nama Bioskop-bioskop beken di kota-kota besar, saya masih juga belum mendapatkan jawaban pasti. Tapi kalau memang hanya penasaran yang berulang, maka “The sweety laugh in a middle of twilight” begitu ujar seorang teman, yang hari itu pertama saya lihat sepanjang hidup menguatkan kesan sanggahan untuk opini tersebut: ini bukan penasaran.

Hingga dini hari, hujan terus mengguyur. Sengaja saya buat kaca mobil menjadi blur oleh The Sky Is Crying yang turun lebih malu-malu ketimbang 6 jam sebelumnya. Apakah masih ada bus kota yang melintas di malam selarut itu untuk mengantar si gadis pulang? Lalu dimanakah ia dan kereta anginnya berteduh? Di emperan toko? Atau kedai-kedai kopi kekinian yang sudah tutup hanya berlatar lampu temaram? Kekhawatiran akan liarnya malam itu jika sampai hati menjamahnya kian membuat kepala ini terasa seperti hendak meledak. Klimaks; mencapai nada tertinggi dari alunan blues malu-malu yang menggema di kepala.
Layaknya diam, kadangkala malu juga bisa menjadi emas. Minimal perak atau perunggulah. Tapi opini asas pembelaan untuk sifat mendasar dalam diri ini mulai terbantahkan. Saya tidak ingat bagaimana struktur kalimat yang menghancurkan buah pemikiran yang tumbuh bertahun-tahun di kepala, dan mungkin sudah menjalar hingga ke batin dan darah. Hanya yang jelas, kalimat terakhir yang dilontarkan seorang sahabat kepada saya disela cerita singkat sebelum kami berpisah pulang meyakinkan saya; “Paling kalau ditolak lagi, lu diketawain.” seraya menepuk pundak dan melambaikan tangan tanda jumpa lagi setelah akhir pekan usai.

Blues malas itu masih juga hinggap di kepala. Hingga lampu emergensi saya hidupkan dan berhenti sekilas.
“Kenapa tiba-tiba sudah di Jakarta? Bukannya jarak rumah saya hanya sepuluh kilometer dari pusat Kota Bandung? Ah, sial! Sudah berapa jam saya melamun dan berputar-putar di jalanan?”
Ya, melamun memang selalu menyesatkan.

***

Jalan, Lengkong Besar, Bandung - Februari 2016, 04.49 WIB.

Jumat, 05 Agustus 2016

Punya Gebetan Artis? Oh, Kenapa Tidak?

Satu musim nyaris terlewati. Tercatat di pertengahan Agustus 2015 silam, saya ditolak cinta (lagi) untuk yang ke-22 kali secara beruntun. Saking meriahnya euforia penolakan yang awalnya saya kira tidak akan pernah terjadi (karena melihat respon si Doi yang amat sangat positif, kendati ternyata hanya sayang sebagai sahabat, katanya..) alhasil kegagalan yang melampaui 3 angka dari usia saya saat itu (19 tahun, 10 bulan) menuai simpati dari beberapa teman yang mengirim hadiah berupa foto senja yang indah buat saya dengan cara menguploadnya ke Instagram dan memberi tag atau mention ke akun saya dengan hastag #Fantastic22.