Well, fantastisnya pencapaian
tersebut juga menobatkan saya sebagai orang di Bumi Pertiwi ini dengan jumlah
ditolak cinta terbanyak di usia yang masih belasan! Dan itu adalah penolakan
terakhir yang saya alami di dekade kedua hidup saya.
12 Oktober 2015 silam, usia saya genap 20 tahun. Dua dekade. Ada
satu hal yang membuat saya berjanji untuk berhenti dari dunia cinta-cintaan.
Ya, betul. Jumlah ditolak saya lebih banyak dari jumlah usia. (Usia 20, ditolak
22.)
Menurut survey yang paling ampuh (20 orang terdekat
saya) mereka bilang kalau sebenarnya saya bukan tipikal orang yang layak-layak
amatlah menerima predikat 22 kali ditolak cinta oleh 22 wanita berbeda sejak
tahun 2008. Bukannya bermaksud narsis nih pembaca yang budiman, tapi..
teman-teman saya bilang kalau saya punya selera humor dan topik pembicaraan
yang agak luas sehingga (seharusnya) dari 22 kali menyatakan cinta, paling
tidak sekurang-kurangnya saya bisa diterima oleh 5 sampai 7 orang wanita.
Hal ini juga berkaitan dengan teori Probabilitas atau
tingkat kemungkinan terendah yang saya coba aplikasikan dalam urusan cinta.
Jika total 22 kali saya nembak atau menyatakan cinta (ke 22 wanita berbeda)
dengan probabilitas diterima sebesar 10 persen (saya men-sejajarkan
presentasenya dengan angka untuk kaum pesimistis yang sudah jomblo selama 3
kehidupan) seharusnya paling tidak saya bisa diterima sekurang-kurangnya
sebanyak 2.22 atau 2 kali atau oleh 2 orang wanita. Itu minimal loh ya.
Ini mirip-mirip dengan prestasi klub
sepakbola dengan materi pemain yang terbilang bagus, dengan pelatih yang juga
mumpuni, namun di akhir musim kompetisi hanya finish di posisi ke tujuh atau
delapan klasmen dengan total jumlah mencetak gol lebih sedikit dari kebobolan
(saya menghitungnya dari defisit 20-22 yang artinya 20 tahun dan 22 kali
ditolak cinta.)
Setidaknya ada tiga hal mendasar yang saya paling
benci di momen sesaat setelah ditolak. Pertama, wanita yang bersangkutan atau
gebetan kita mendadak jadi patung. Dia tidak se-asyik sebelum kita menyatakan
cinta. Ini adalah step awal menuju hubungan yang tidak lagi harmonis dalam
pertemanan. Paling tidak perlu waktu sekurang-kurangnya satu sampai tiga tahun
untuk memulihkan hubungan menjadi teman biasa lagi. Dan itupun dengan dibarengi
14.879 rasa canggung untuk ngobrol dan bercanda se-lepas dulu.
Kedua, saya jadi sering galau, melamun, hilang fokus,
hilang selera makan, berat badan turun hingga 10 kilogram (rekor terakhir
terjadi di bulan Maret 2015, saya pernah turun dari 80 ke 68 kilogram atau 12
kilo dalam kurun 2 minggu hanya karena ditolak cinta) ini juga berpengaruh pada
penurunan mood belajar. IPK saya pernah anjlok dari 3.50 ke 2.65 karena hal
idiot ini.
Yang ketiga ini saya alami setelah penolakan ke-20 di
malam tahun baru 2014. Yakni proses re-covery yang butuh waktu agak lama. Kalau
zaman SMA sih, setelah ditolak cinta sepertinya tidak terlalu butuh waktu lama
untuk bisa pulih. Paling cepat sebulan lah, saya bisa lupa akan kejadian
tersebut. Fase SMP dan SMA adalah fase terbanyak yang menyumbang angka
penolakan. SMP saya ditolak sampai 12 kali, dan SMA 8 kali. Sedangkan kuliah, saya
2 kali ditolak.
*****
Setelah digit awal usia saya
memasuki angka “2” saya tidak pernah lagi ditolak cinta. Sederhananya, hal itu
terjadi karena saya tidak mendekati siapapun. 11 bulan tanpa ditolak cinta
merupakan rekor terlama kedua saya tidak pernah ditolak dan mendekati rekor
terlama yakni 14 bulan yang saya pegang (Desember 2013 – Februari 2015.)
Satu pertanyaan yang terlintas: apa saya jangan pernah
menyatakan cinta ya, supaya tidak ditolak? Ha-ha, ini terdengar konyol. Kendati
saya adalah tipikal orang dengan pembawaan ceria, hyperaktif, dan amat-sangat
menyenangkan, tapi kalau menghadapi momen penolakan sih, rasanya lumayan sakit
juga sih ya.
Analisis kegagalan cinta terparah diantara teman-teman
ini pada akhirnya saya lakukan di awal Tahun 2016. Saya punya beberapa teman,
diantaranya Yusuf Gondrong, dan teman-teman kelas yang karena terlalu banyak
jumlahnya maka saya singkat jadi Barudak Antapani. Saya pernah ingat momen
dimana si Yusuf bilang begini: “Gua sih kalo nyari cewek selalu dari anak-anak
Facebook. Kalaupun nyari di Instagram, gua liat dulu, di following dan
followersnya ada akun anak-anak tongkrongan gua apa enggak. Kalau ada, gua
deketinnya lebih hati-hati. Tapi yang paling aman sih jalur Facebook, Ray!
Karena anak-anak angkatan kita udah jarang yang mainan Facebook. Jadi
kemungkinan kita ngegebet orang yang sama dengan orang lain itu kecil.”
Juga momen dimana si Rezha Hideung selalu mengagung-agungkan
gebetannya yang merupakan kakak tingkatnya semasa SMA, yang kini jadi aktris
teater Indie di Bandung. Dia bilang begini: “Duh gusti, cantik banget! Gua sih
rela nunggu janda-nya sekalipun. Ya, kasarnya gitulah. Sampe gua punya
kehidupan yang mapan buat bisa deketin dia.”
Dua teman saya ini, paling tidak saya jadikan
barometer untuk urusan “Jatuh Cinta Yang Sehat” dimana Yusuf dengan segala
keberhasilannya memikat beberapa cewek cantik tanpa perlu mengubah
kepribadiannya. Dan Rezha dengan menjadikan si Gebetan ini sebagai bahan
seru-seruan, atau mungkin motivasi agar dia bisa semangat pergi ke kampus,
semangat bekerja sampingan selepas ataupun mengambil sisi positifnya dari momen
saat dia jatuh cinta. kuliah (FYI, Rezha ini adalah fotografer freelance di
beberapa band indie di Bandung, dan menghidupi segala peralatan fotografinya
dari kegiatan memotret)
Saya melihat dua orang teman saya ini selalu ceria dan
selalu punya ide-ide baru, tidak pernah ada cerita mereka dibuat galau oleh
wanita. Dan uniknya, mereka (dengan tampilan yang tidak terlihat mewah, tidak
seperti kebanyakan anak laki-laki seusia saya yang kemana-mana naik mobil
papah, makan atau nongkrong di restoran mewah, atau pergi dugem ke klab malam)
dengan beraninya naksir wanita yang punya tingkat kecantikan diatas rata-rata.
Bahkan Yusuf, si Jurnalis muda ini berhasil mendapatkan wanita sesuai dengan
kriteria ideal yang dia idam-idamkan.
Rezha mungkin belum berhasil, tapi saya mengamati
semangatnya mengerjakan beberapa proyek fotografi dan pembuatan video musik,
itu juga membuat saya sedikitnya terispirasilah dari keberhasilan dia
mengalihkan energi jatuh cintanya untuk hal yang bermanfaat.
Oke, akhirnya saya ambil poin pentingnya. Gebetan
ideal per Januari 2016 setelah proses pengamatan saya adalah: orang yang diluar
frekuensi anak-anak tongkrongan kita, orang yang benar-benar cantik sekalian
(tidak nanggung, kalau mau cantik minimal dia harus lebih cantik dari primadona
kampus lah), orang dengan kemampuan dan karakternya yang menonjol (bukan cewek
yang hobi haha-hihi nongkrong sana-sini pulang jelang pagi). Atau simpelnya,
cari wanita yang cantik, diluar jangkauan frekuensi kita dan teman sekitar, dan
punya segala kelebihan di bidangnya. Dengan satu kalimat: Cari wanita yang
“Wah!” sekalian. Biar tidak nanggung.
Namanya laki-laki, anak indekos dan jomblo, pastilah
butuh wanita-wanita imajiner dalam dimensi keduanya, paling tidak untuk
menghibur diri dari rasa sepi dengan bikin-bikin caption berbau, “Raisa, ngopi
yuk!” di listening song Path-nya saat malam minggu.
Dan singkat cerita, saya tertarik pada seorang
penyanyi jazz, yang tentu saya tidak perlu menyebut namanya disini. Ha-ha-ha.
Begitulah. Penyanyi ini berasal dari Jakarta. Sudah punya nama pula. Tidak
sebesar Raisa memang, tapi.. paling tidak sih, yang model begini yang saya cari
sejak zaman SMA.
Jangan dulu bicara bagaimana saya bisa berkenalan
dengan si Penyanyi ini. Untuk bertemu saja, saya rasa ini tentu sangat sulit
terwujud. Bahkan, kalau saya bilang “Woi, gua jatuh cinta nih sama si Nganu
ini..” pasti saya dikatai gila, karena itu adalah hal yang memang sepintas
terdengar idiot untuk orang seukuran saya.
Jatuh hati pada seseorang berlabel “Artis” dan
berharap bisa berkenalan lebih jauh mungkin adalah bak mimpi di siang bolong.
Tapi lagi-lagi postingan Yusuf di timeline akun Line-nya membuat saya semakin
percaya diri sebagai pemimpi di siang bolong. Dalam tulisannya, Yusuf mengutip
sebuah kalimat, entah itu dia baca dari buku seorang motivator handal atau
entah siapa, tapi isinya cukup menghenyak saya, yang selalu dilabeli “pemimpi
di siang bolong” sejak kecil. Berikut isi tulisannya:
“Semua
orang bermimpi, tapi tak sama. Mereka yang bermimpi di malam hari dalam
kesadaran yang samar-samar akan menemukan bahwa mimpi mereka kosong melompong:
tapi, para pemimpi di siang bolong adalah orang yang berbahaya, karena bisa
mewujudkan mimpi mereka dengan penuh kesararan, agar menjadi kenyataan.” – T.E
Lawrence (The Seven Pillars of Wisdom)
Saya tidak tahu dan tidak mau tahu rasa kagum terhadap
penyanyi jazz ini relevan atau tidak jika disandingkan dengan kutipan diatas.
Hanya yang jelas, sejak saat itu saya tidak takut kalau harus bermimpi di siang
bolong.
Kembali ke si penyanyi Jazz cantik tadi. Sebenarnya
saya sudah dari jauh-jauh waktu pernah mendengar namanya, bahkan sejak masih
duduk di bangku SMA, sekitar pertengahan tahun 2012 sampai awal 2013-an kalau
tidak salah. Seingat saya, dia dulunya adalah vokalis band, lalu pada akhirnya
menjadi solois. Di sekitaran tahun-tahun itu jugalah saya samar-samar pernah
melihat dia (sepertinya dengan bandnya) manggung di salah satu kampus kenamaan
di Depok.
Setelah namanya sebesar sekarang, saya sudah dua kali
bertemu dengan dia. Di akhir Mei 2016, dan di satu malam saat bulan Ramadhan
tahun 2016. Dan pertama kali meliput dia di sebuah acara kampus yang cukup
megah yang “menjual” nama jazz, tapi dengan esensi jazz yang kurang terasa.
Tapi, di tulisan ini saya tidak akan membahas acara tersebut. Yang jelas, di
acara tersebut saya hanya meliput dan memotret dia saat manggung saja, tidak
bertemu dalam arti bertatap muka.
Penyanyi ini memiliki tipikal ramah, santai, apa
adanya. Saya tidak tahu dia “doyan” merokok atau bagaimana, hanya kerap kali
saya melihatnya sedang menghisap rokok putih saat sedang checksound atau di
belakang panggung. Saya lupa, dulu saat pertama kali melihat dia manggung di
kampus teman di Depok (sebuah kampus ternama, yang mana tokoh Ikal dan Arai di
film Sang Pemimpi kuliah di kampus tersebut) apakah dia sudah merokok sejak itu
atau bagaimana, saya kurang tahu. Hanya yang saya amati adalah perubahan
rambutnya.
Dulu model rambut dia di bob pendek khas
vokalis-vokalis band perempuan, sehingga saya sempet nyeletuk: “Wah, lucu nih
vokalisnya,” atau setara kalimat “Leh Ugaa!” lah kalau disejajarkan dengan tren
di 2016 sih. Hanya sayang, memori saya yang tergolong rendah ini tidak sampai
merekam dia (dan mungkin bandnya) membawakan lagu apa saja saat itu, karena
yang saya ingat lagunya berbahasa Inggris. (info: skill Bahasa Inggris saya
amat jeblok.)
******
Katakanlah sejak semester 4 ini, saya mulai naksir dia. Sudah satu semester berarti ya, karena terhitung sejak Juli 2016 lalu, semester 4 sudah berakhir. Saya membuat tulisan ini ditengah-tengah masa libur panjang menjelang semester 5 dimulai.
Sebagian orang, apalagi yang seumuran dengan saya,
banyak menghindari rasa kagum berlebih terhadap public figur, apalagi bagi
seorang laki-laki. Saya tidak menampik, di awal saya seperti gengsi untuk
mengumbar kekaguman saya terhadap si wanita penyanyi jazz cantik ini.
Tapi entah sepertinya karena kondisi hati sedang
benar-benar kosong, dan latar belakang trauma psikologis (takut ditolak yang
ke-23 kalinya) kalau mendekati lawan jenis yang masih satu frekuensi pergaulan
(teman kuliah, temannya teman, dan atau apapun itu, katakanlah sesama
Mahasiswa) akhirnya saya mantap untuk naksir si penyanyi ini sajalah.
Pembaca yang budiman, saya merasa kalau kita jatuh
hati terhadap wanita yang perbedaannya bagaikan langit dan bumi dengan kita,
seperti ada “toleransi” andai kita gagal mewujudkan mimpi kita bersama sang
Idola. Analoginya, seperti timnas Indonesia jika lolos ke putaran final Piala
Dunia.
Kasarnya, meski kalah di fase grup tanpa memasukkan
satu gol ke gawang lawan sekalipun, mereka tidak akan dicaci maki oleh sekitar
karena adanya faktor pemikiran realistis dari kebanyakan orang yang melihat.
(ini hanya analogi, bukan bermaksud apa-apa terhadap timnas sepakbola
Indonesia. Semoga kita juara di Qatar 2022.)
Hanya saja, momen yang agak menyebalkannya sih adalah
dimana saya dianggap pemimpi di siang bolong tiap saya mengumbar kekaguman
terhadap si penyanyi ini. Tapi, saya berterima kasih betul pada kutipan di
Timeline akun Line Yusuf yang saya tulis di atas.
Saya bermimpi di siang bolong. Mimpi saya: jadi pacar
si penyanyi itu, lalu kedepannya.... Ah, kejauhan. Yang terdekat sih baru itu
pokoknya. Apa artinya, karena saya bermimpi di siang bolong maka saya berniat
dengan penuh kesadaran untuk mewujudkannya? Oh jelas iya. Tapi bukan dengan
cara yang gombal dan dibilang receh.
Maka di titik ini, cara pandang Rezha lah yang
bermain: yakni mengalihkan energi jatuh cinta menjadi energi positif yang amat
saya perlukan untuk tetap menjaga spirit pergi ke kampus, spirit menulis dan
menyelesaikan buku pertama saya “Budjang The Story” ada juga spirit saya
menulis lirik lagu dan merekamnya untuk koleksi pribadi, juga semangat bekerja
sampingan sebagai fotografer dan jurnalis musik yang masih lepas. Di awal, saya
tidak tahu bagaimana caranya, karena yang jelas, si “converter” pengalih energi
itu tidak dijual di supermarket. Ha-ha-ha!
Jelas semua orang tahu kalau ekspektasi saya adalah
jika saya sukses jadi penulis, atau sukses jadi fotografer band ternama, atau
sukses jadi wartawan musik di majalah musik ternama, bukankah itu akan membuat
kasta frekuensi saya naik? Katakanlah saat ini saya adalah petinju kelas bulu
ringan (kelasnya Chris John) sedangkan si Penyanyi jazz itu ada di kelas welter
(kelasnya Many Pacquiao.) katakanlah perbedaan kelasnya dia (atau Pacquiao)
adalah 2 kelas diatas saya (Chris John.)
Artinya untuk saat ini, Chris John dan Pacquiao tidak
akan mungkin jadi kandidat lawan, apalagi bermain dalam satu ring karena
kelasnya berbeda. Namun hal itu bisa terjadi jika Chris John naik sebanyak dua
kelas, dan Pacquiao tidak naik kelas. Atau jika Pacquiao naik satu kelas, maka
Chris John harus naik kelas lebih dari 2 (atau lebih tepatnya naik sekaligus
tiga kelas) agar bisa berhadapan dengan Pacman.
Itu secara analogi ya. Sekarang kita aplikasikan ini
ke dalam cerita saya. Realitanya, saya tidak akan mungkin menjadi kandidat
pacar, apalagi jadi pacar si Penyanyi ini. Kecuali saya (minimal) jadi orang
yang satu frekuensi dengan dia (entah itu jadi wartawan majalah musik ternama
di Indonesia, entah saya harus jadi fotografer band cluster satu di Indonesia,
jadi penulis setara Raditya Dika, atau Andrea Hirata. Atau lebih ekstrim lagi:
saya jadi musisi yang punya nama setara dengan dia.) Yang jelas, saya harus
(minimal) punya sesuatu kelebihan yang membuat si Penyanyi ini bisa mengenal
saya.
Good point! Saya menjadikan perasaan ini sebagai salah
satu trigger untuk mencapai cita-cita (yang sejatinya ingin menjadi seorang
Jurnalis dan Penulis.) Urusan nanti jika saya berhasil mencapai cita-cita
tersebut saya akan pacaran dengan si penyanyi ini atau tidak ya itu sih gimana nanti.
Toh, usia kami terpaut 5 tahun. Kalau saya sukses di usia 25, artinya usia dia
sudah 30 tahun. Dan kalau kami pacaran, katakanlah setahun dan menikah, maka
usia saya 26, dan dia 31. Maka saya punya anak saat usia saya 27 tahun, dan dia
32 tahun. Saya tidak tahu apa ini jadinya akan sangat seksi dan ideal untuk
sebuah keluarga sakinah atau justru saya hidup dengan orang yang terlampau
diatas?
Atau jangan dulu bicara kesana lah, kita pikirkan
kemungkinan yang lebih buruk lagi bagi saya: 2 tahun kedepan, sebelum saya
mencapai cita-cita, eh ternyata si Penyanyi ini keburu menikah. Itu akan
benar-benar fail!
Ha-ha, imajinasi ini memang terkesan kejauhan, tapi..
kadangkala jatuh cinta bisa membuat pemikiran si penderitanya jadi liar. Oh,
liar.. Saya jadi ingat salah satu lagu berjudul ini. Ha-ha-ha, sudahlah!
Tips mendasar yang bisa saya jelaskan saat kita
memiliki gebetan artis adalah: cari artis yang sekiranya masih bisa kita kejar
frekuensinya, lalu jadikan dia motivasi supaya kamu semakin dekat dengan pekerjaan
yang juga akan mendekatkan si artis itu dengan kita. Dan kemudian, nikmati
proses “mengejar frekuensi” itu sebaik-baiknya. Dan setelah kamu mencapai
cita-citamu itu, urusan kamu akan bisa jadian atau tidak dengan artis
gebetanmu, itu nomor sekian. Setidaknya, ada 2 pilihan menanti saat kamu
mencapai cita-cita yang tadi: Pertama, kamu dapatkan rejeki (harta) kepercayaan
(atau elegannya tahta) dan si artis gebetan dari cita-citamu itu (wanita) atau
kamu hanya mendapatkan rejeki dan kepercayaannya saja.
Ambil contoh seperti Nazriel Irham, Vokalis Noah yang
lebih akrab disapa Ariel. Konon katanya, lagu “Khayalan Tingkat Tinggi” adalah
karyanya yang diciptakan karena terinspirasi dari kekagumannya terhadap artis
cantik Tamara Blezensky. Dan bisa jadi... Ariel menjadikan si kekagumannya ini
sebagai trigger supaya dia mencapai impiannya untuk menjadi musisi sukses,
Wallahu alam.. Yang jelas, Ariel tahun 2001, yang hanya jadi penyanyi cafe, dan
Tamara dengan segala kecantikan dan deretan sinetron dan iklannya di televisi
sangatlah jauh sekali frekuensinya.
Tapi lihat sekarang. 15 tahun kemudian. Ariel, yang
kendati tidak mendapatkan Tamara, tapi dia mendapatkan rejeki, dan kenikmatan
yang mungkin lebih besar jumlahnya.
Oh ya, ngomong-ngomong semester 4, jadwal kuliah saat
itu sangatlah tidak bisa bersahabat dengan saya. Tapi hanya bisa berteman, atau
mungkin adik-kakak-an saja (ciee, korban PHP adik-adikan masa kini. Hahaha)
Tiga kali dalam seminggu, saya harus masuk pukul tujuh
pagi! Dan itu semua harinya berdempet: Rabu, Kamis, lalu Jum’at. Dosen yang
mengajar jam tujuh juga semuanya dosen yang menerapkan aturan toleransi
terlambat selama 15 menit dan kalau telat, maka out!
Pola tidur saya yang sudah rusak karena di semester
tiga banyak jadwal kuliah sore, membuat saya harus sigap beradaptasi. Di awal
semester, saya sempat keteteran. Terbiasa baru tidur jam 5 pagi, kini jam
segitu menjadi ideal saya harus bangun dan mandi sebelum akhirnya berangkat
pukul enam pagi.
Rasa kantuk jelas mengganggu. Jelas.. Lalu, tahukah
kalian apa alasan saya untuk tidak bolos kuliah karena ingin lanjut tidur? Ya,
karena saya tidak mau transkrip nilai turun. Kalau transkrip nilai turun,
ujungnya IPK saya kecil. Dan IPK kecil nantinya akan menyulitkan jalan saya
untuk kerja di media musik ternama. Kalau gagal kerja jadi wartawan musik,
bagaimana saya bisa menyusul frekuensi si.... Eaaaaa, jadi malu deh! Ha-ha-ha..
Kelihatannya sederhana, tapi kalau dirunut secara
rinci dan sedikit bumbu sok serius, kok sepertinya berat juga ya? Ha-ha-ha.
Maka dari itu, ada ritual unik yang biasa saya
lakukan: memutar video klip si penyanyi jazz ini di laptop sambil memandanginya
tepat setengah meter didepan layar laptop sebanyak tiga kali putaran sesudah
mandi dan sembari sarapan cemal-cemil roti, menyeruput kopi hangat dan
menghisap rokok supaya badan ini hangat.
Tahu apa dampaknya? Cenghar.
Cenghar adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya
(kurang lebih) adalah segar bugar atau semangat. Seperti pasangan yang baru dua
hari jadian. Ha-ha. Saya kurang mengerti bidang psikologi apa yang
berkonsentrasi meneliti dampak melihat senyum orang yang kita sukai terhadap
motivasi kita untuk lebih giat melakukan sesuatu.
Selama jadwal pagi di semester 4, saya rutin melakukan
ritual tersebut setiap pagi dan tidak pernah bosan. Kalau saya sedang menulis
dan kehabisan ide, saya lakukan ritual aneh itu. Belakangan saya mendapat
orderan foto prawedding dan kehabisan ide saat proses editing. Dan saya memecah
kebuntuan itu lewat ritual aneh yang sama.
Dampak luar biasanya: sejak ritual itu saya lakukan,
saya tidak pernah terlambat masuk pagi di Semester 4, semangat belajar naik
drastis, transkip nilai berangsur membaik. Dari asalnya 2.65, naik menjadi
3.00, dan berkat andil tidak adanya nilai C, apalagi D dan E di semester 4, si
transkip naik jadi 3.22. Di lain sisi, orderan foto saya mendapat rating yang
not bad dari klien. Dan saya juga tidak pernah kehabisan bahan untuk terus
menulis.
Meskipun ini tidak berpengaruh banyak bagi kehidupan
siapapun, hanya saya merasa hal ini adalah “kemajuan” bagi saya. Yang awalnya
saya malas-malasan karena galau, sekarang seperti menemukan semangat hidup
kembali. Dan dari situ, saya menemukan banyak pekerjaan baru, dan menghasilkan
sejumlah uang guna memperbaiki peralatan memotret dan sisanya saya tabung.
Bukan pencapaian yang fantastis memang, namun adanya
kemajuan kesejahteraan hidup ini saya dapatkan dengan motivasi yang terkesan
freak: karena jatuh hati dengan artis penyanyi jazz. Ha-ha-ha, ini sungguh
diluar konsep hidup yang saya kepikiran untuk membuatnya. Tapi seru!
Seiring berjalannya waktu, saya beberapa kali diajak
oleh grup berformat Keroncong asal Bandung untuk mendokumentasikan perjalanan
manggungnya ke beberapa kota besar. Menyenangkan! Menjadi fotografer band
adalah langkah awal jika kita ingin memperluas frekuensi di bidang entertain,
khususnya musik. Berkenalan dengan fotografer band lainnya, atau bahkan kerap
bertukar job memotret, itu menandakan kalau frekuensi fotografer band (yang
notabene orang Non-Artis) akan sama dengan si Artisnya.
Di beberapa kali “panggilan” untuk ikut dengan
rombongan grup Keroncong ini, kadang saya bertanya-tanya, siapa saja line-up di
stage nya nanti? Apakah penyanyi itu juga manggung di acara yang sama? Kendati
dia adalah seorang penyanyi jazz, tidak ada yang bisa menampik dia akan
manggung di acara Keroncong, yang kini tak lagi terkesan “jadul.”
Apalagi saat saya membaca di biografinya, kalau nenek
dari si Penyanyi jazz ini adalah seorang penyanyi keroncong, dan dia
terinspirasi dari sana. Dan saya juga pernah melihat di postingan akun
Instagram entah siapa karena saya lupa, kalau si Penyanyi ini pernah manggung
di acara yang bertema kebudayaan, mengenakan kebaya. Sehingga saya yakin kalau
suatu saat pasti akan ada momen dimana grup Keroncong yang merupakan ”bendera”
yang saya bawa saat memotret acara akan satu panggung dengan penyanyi ini.
Entah kapan dan dimana, tapi saya yakin itu akan terjadi. Makanya, setiap kali
bos grup Keroncong itu menelepon, saya langsung bertanya-tanya dalam hati: apakah
si Penyanyi itu manggung di acara yang sama?
Hal ini semakin diperkuat saat gitaris dari grup
Keroncong tersebut, yang merupakan kakak tingkat di SMA, bercerita kalau
beberapa tahun sebelumnya, gitaris dari si penyanyi ini pernah mengajaknya
membuat project musik bernuansa jazz begitulah. Namun, itu tidak terwujud
karena beberapa hal.
“Dulu dia pernah ngajak aku di sebuah proyek,
jazz-jazzan gitu.” Ujarnya, datar.
Saya tertegun. Artinya, sekarang frekuensi saya tidak
jauh-jauh amat dengan si Penyanyi ini. Paling tidak dalam hidup saya sudah ada
orang yang kenal dengan saya, dan orang itu kenal dengan orang yang kenal
dengan si Penyanyi jazz tersebut. Kini jarak kami, yang awalnya dua frekuensi,
menjadi tinggal satu frekuensi.
Saya teringat pengalaman Rezha, yang beberapa kali
mendapat akses memotret penyanyi ini. Belakangan, Rezha mendapat proyek besar
dengan salah seorang additional player si Penyanyi ini. Konon, perkenalan
mereka dimulai dari pekerjaan Rezha di sebuah band asal Bandung yang punya nama lumayan
besar, dan salah satu personil di band tersebut juga merupakan additional
players di band pengiring si Penyanyi ini. Dari situlah Rezha diperkenalkan
pada personil band pengiring lainnya. Rezha pernah satu kali memberi saya akses
masuk memotret si Penyanyi ini. Dan akses inilah yang juga sempat mempertemukan
saya dengan si Penyanyi, kendati hanya dua menit rasanya dan dibumbui rasa
deg-degan yang luar biasa.
Terinspirasi dari pekerjaan Rezha, kini saya menjalani
profesi yang mirip-mirip lah, namun dengan porsi yang lebih santai karena saya
harus membagi waktu antara memotret, menyelesaikan tulisan, dan kegiatan
lainnya. Hanya saja, ada satu hal yang saya tunggu dalam pekerjaan memotret
band ini: saya menunggu grup manapun dimana tempat saya bekerja akan satu
panggung dengan si Penyanyi itu.
*****
Saya kadang berfikir, coba kalau Tuhan “menitipkan”
hati saya pada tatap mata anak kampus, atau orang yang satu frekuensi pergaulan
dengan saya. Maka konsepnya jelas: saya akan mudah untuk pendekatan dengan dia,
lalu endingnya saya ditolak, patah hati, makin hancurlah hidup saya.
Sumpah, Tuhan menyayangi saya dengan cara yang
benar-benar unik. Dia menitipkan hati saya pada tatapan mata yang tipis karena
kalau si pemiliknya tertawa, sisa matanya itu hanya satu garis saja; mirip
sekali dengan mata saya (ini serius. Saya adalah seorang The Sipit-ers, wahai
pembaca! Xi-xi-xi)
Tuhan menitipkan hati saya pada orang yang tidak satu
frekuensi dengan saya agar saya bisa semangat untuk mengejar frekuensi si orang
tersebut. Tuhan melakukannya karena dia tahu, saya akan merasa minder dan lebih
memilih memendam dan memilih jalan melakukan substitusi (yakni mengalihkan
energi jatuh cinta itu ke hal positif lainnya) dan hebatnya, saya seperti
diberi “converter” si pengubah energi dari rasa suka menjadi semangat dalam
mengerjakan sesuatu itu sepaket saat saya merasa jatuh semakin dalam! Tuhan
menjauhkan saya dari rasa patah hati, karena dia tahu saya akan dikecewakan
lagi kalau harus jatuh cinta dengan orang yang satu frekuensi dengan saya.
Lalu andai semua yang saya ekspektasikan tercapai,
entah saya tidak tahu konsepsi buatan-Nya selanjutnya akan bagaimana. Hanya,
baru diajak bermain sampai titik ini saja, saya benar-benar jatuh cinta kepada
permainan Tuhan yang ini. Sungguh!
Maka dari itu pembaca yang budiman, saya rasa jatuh
cinta yang paling aman bagi mereka yang kerap dikecewakan adalah jatuh cinta
dengan orang yang berbeda frekuensi dengan kita. Misalnya dengan artis (yang
frekuensinya berbeda satu sampai dua tingkat diatas kita.) karena dengan
begitu, maka kecil kemungkinannya untuk saling berdampingan, apalagi mengobrol.
Dan dengan itu, maka kecil juga kemungkinan (kita) akan dikecewakan.
Dan bagi pembaca yang sedang mengalami hal serupa
dengan saya, tips mendasarnya sudah saya jelaskan diatas. Jika perlu diulangi:
jadikan dia (si gebetan artismu itu) motivasi supaya kamu semakin dekat dengan
pekerjaan yang juga akan mendekatkan si artis itu dengan kita. Dan kemudian,
nikmati proses “mengejar frekuensi” itu sebaik-baiknya.
Nikmatilah proses jatuh hati, sebelum patah hati
datang menghampiri!