Jumat, 05 Agustus 2016

Punya Gebetan Artis? Oh, Kenapa Tidak?

Satu musim nyaris terlewati. Tercatat di pertengahan Agustus 2015 silam, saya ditolak cinta (lagi) untuk yang ke-22 kali secara beruntun. Saking meriahnya euforia penolakan yang awalnya saya kira tidak akan pernah terjadi (karena melihat respon si Doi yang amat sangat positif, kendati ternyata hanya sayang sebagai sahabat, katanya..) alhasil kegagalan yang melampaui 3 angka dari usia saya saat itu (19 tahun, 10 bulan) menuai simpati dari beberapa teman yang mengirim hadiah berupa foto senja yang indah buat saya dengan cara menguploadnya ke Instagram dan memberi tag atau mention ke akun saya dengan hastag #Fantastic22.


            Well, fantastisnya pencapaian tersebut juga menobatkan saya sebagai orang di Bumi Pertiwi ini dengan jumlah ditolak cinta terbanyak di usia yang masih belasan! Dan itu adalah penolakan terakhir yang saya alami di dekade kedua hidup saya.
            12 Oktober 2015 silam,  usia saya genap 20 tahun. Dua dekade. Ada satu hal yang membuat saya berjanji untuk berhenti dari dunia cinta-cintaan. Ya, betul. Jumlah ditolak saya lebih banyak dari jumlah usia. (Usia 20, ditolak 22.)
Menurut survey yang paling ampuh (20 orang terdekat saya) mereka bilang kalau sebenarnya saya bukan tipikal orang yang layak-layak amatlah menerima predikat 22 kali ditolak cinta oleh 22 wanita berbeda sejak tahun 2008. Bukannya bermaksud narsis nih pembaca yang budiman, tapi.. teman-teman saya bilang kalau saya punya selera humor dan topik pembicaraan yang agak luas sehingga (seharusnya) dari 22 kali menyatakan cinta, paling tidak sekurang-kurangnya saya bisa diterima oleh 5 sampai 7 orang wanita.
Hal ini juga berkaitan dengan teori Probabilitas atau tingkat kemungkinan terendah yang saya coba aplikasikan dalam urusan cinta. Jika total 22 kali saya nembak atau menyatakan cinta (ke 22 wanita berbeda) dengan probabilitas diterima sebesar 10 persen (saya men-sejajarkan presentasenya dengan angka untuk kaum pesimistis yang sudah jomblo selama 3 kehidupan) seharusnya paling tidak saya bisa diterima sekurang-kurangnya sebanyak 2.22 atau 2 kali atau oleh 2 orang wanita. Itu minimal loh ya.
            Ini mirip-mirip dengan prestasi klub sepakbola dengan materi pemain yang terbilang bagus, dengan pelatih yang juga mumpuni, namun di akhir musim kompetisi hanya finish di posisi ke tujuh atau delapan klasmen dengan total jumlah mencetak gol lebih sedikit dari kebobolan (saya menghitungnya dari defisit 20-22 yang artinya 20 tahun dan 22 kali ditolak cinta.)
Setidaknya ada tiga hal mendasar yang saya paling benci di momen sesaat setelah ditolak. Pertama, wanita yang bersangkutan atau gebetan kita mendadak jadi patung. Dia tidak se-asyik sebelum kita menyatakan cinta. Ini adalah step awal menuju hubungan yang tidak lagi harmonis dalam pertemanan. Paling tidak perlu waktu sekurang-kurangnya satu sampai tiga tahun untuk memulihkan hubungan menjadi teman biasa lagi. Dan itupun dengan dibarengi 14.879 rasa canggung untuk ngobrol dan bercanda se-lepas dulu.
Kedua, saya jadi sering galau, melamun, hilang fokus, hilang selera makan, berat badan turun hingga 10 kilogram (rekor terakhir terjadi di bulan Maret 2015, saya pernah turun dari 80 ke 68 kilogram atau 12 kilo dalam kurun 2 minggu hanya karena ditolak cinta) ini juga berpengaruh pada penurunan mood belajar. IPK saya pernah anjlok dari 3.50 ke 2.65 karena hal idiot ini.
Yang ketiga ini saya alami setelah penolakan ke-20 di malam tahun baru 2014. Yakni proses re-covery yang butuh waktu agak lama. Kalau zaman SMA sih, setelah ditolak cinta sepertinya tidak terlalu butuh waktu lama untuk bisa pulih. Paling cepat sebulan lah, saya bisa lupa akan kejadian tersebut. Fase SMP dan SMA adalah fase terbanyak yang menyumbang angka penolakan. SMP saya ditolak sampai 12 kali, dan SMA 8 kali. Sedangkan kuliah, saya 2 kali ditolak.
*****
            Setelah digit awal usia saya memasuki angka “2” saya tidak pernah lagi ditolak cinta. Sederhananya, hal itu terjadi karena saya tidak mendekati siapapun. 11 bulan tanpa ditolak cinta merupakan rekor terlama kedua saya tidak pernah ditolak dan mendekati rekor terlama yakni 14 bulan yang saya pegang (Desember 2013 – Februari 2015.)
Satu pertanyaan yang terlintas: apa saya jangan pernah menyatakan cinta ya, supaya tidak ditolak? Ha-ha, ini terdengar konyol. Kendati saya adalah tipikal orang dengan pembawaan ceria, hyperaktif, dan amat-sangat menyenangkan, tapi kalau menghadapi momen penolakan sih, rasanya lumayan sakit juga sih ya.
Analisis kegagalan cinta terparah diantara teman-teman ini pada akhirnya saya lakukan di awal Tahun 2016. Saya punya beberapa teman, diantaranya Yusuf Gondrong, dan teman-teman kelas yang karena terlalu banyak jumlahnya maka saya singkat jadi Barudak Antapani. Saya pernah ingat momen dimana si Yusuf bilang begini: “Gua sih kalo nyari cewek selalu dari anak-anak Facebook. Kalaupun nyari di Instagram, gua liat dulu, di following dan followersnya ada akun anak-anak tongkrongan gua apa enggak. Kalau ada, gua deketinnya lebih hati-hati. Tapi yang paling aman sih jalur Facebook, Ray! Karena anak-anak angkatan kita udah jarang yang mainan Facebook. Jadi kemungkinan kita ngegebet orang yang sama dengan orang lain itu kecil.”
Juga momen dimana si Rezha Hideung selalu mengagung-agungkan gebetannya yang merupakan kakak tingkatnya semasa SMA, yang kini jadi aktris teater Indie di Bandung. Dia bilang begini: “Duh gusti, cantik banget! Gua sih rela nunggu janda-nya sekalipun. Ya, kasarnya gitulah. Sampe gua punya kehidupan yang mapan buat bisa deketin dia.”
Dua teman saya ini, paling tidak saya jadikan barometer untuk urusan “Jatuh Cinta Yang Sehat” dimana Yusuf dengan segala keberhasilannya memikat beberapa cewek cantik tanpa perlu mengubah kepribadiannya. Dan Rezha dengan menjadikan si Gebetan ini sebagai bahan seru-seruan, atau mungkin motivasi agar dia bisa semangat pergi ke kampus, semangat bekerja sampingan selepas ataupun mengambil sisi positifnya dari momen saat dia jatuh cinta. kuliah (FYI, Rezha ini adalah fotografer freelance di beberapa band indie di Bandung, dan menghidupi segala peralatan fotografinya dari kegiatan memotret)
Saya melihat dua orang teman saya ini selalu ceria dan selalu punya ide-ide baru, tidak pernah ada cerita mereka dibuat galau oleh wanita. Dan uniknya, mereka (dengan tampilan yang tidak terlihat mewah, tidak seperti kebanyakan anak laki-laki seusia saya yang kemana-mana naik mobil papah, makan atau nongkrong di restoran mewah, atau pergi dugem ke klab malam) dengan beraninya naksir wanita yang punya tingkat kecantikan diatas rata-rata. Bahkan Yusuf, si Jurnalis muda ini berhasil mendapatkan wanita sesuai dengan kriteria ideal yang dia idam-idamkan.
Rezha mungkin belum berhasil, tapi saya mengamati semangatnya mengerjakan beberapa proyek fotografi dan pembuatan video musik, itu juga membuat saya sedikitnya terispirasilah dari keberhasilan dia mengalihkan energi jatuh cintanya untuk hal yang bermanfaat.
Oke, akhirnya saya ambil poin pentingnya. Gebetan ideal per Januari 2016 setelah proses pengamatan saya adalah: orang yang diluar frekuensi anak-anak tongkrongan kita, orang yang benar-benar cantik sekalian (tidak nanggung, kalau mau cantik minimal dia harus lebih cantik dari primadona kampus lah), orang dengan kemampuan dan karakternya yang menonjol (bukan cewek yang hobi haha-hihi nongkrong sana-sini pulang jelang pagi). Atau simpelnya, cari wanita yang cantik, diluar jangkauan frekuensi kita dan teman sekitar, dan punya segala kelebihan di bidangnya. Dengan satu kalimat: Cari wanita yang “Wah!” sekalian. Biar tidak nanggung.
Namanya laki-laki, anak indekos dan jomblo, pastilah butuh wanita-wanita imajiner dalam dimensi keduanya, paling tidak untuk menghibur diri dari rasa sepi dengan bikin-bikin caption berbau, “Raisa, ngopi yuk!” di listening song Path-nya saat malam minggu.
Dan singkat cerita, saya tertarik pada seorang penyanyi jazz, yang tentu saya tidak perlu menyebut namanya disini. Ha-ha-ha. Begitulah. Penyanyi ini berasal dari Jakarta. Sudah punya nama pula. Tidak sebesar Raisa memang, tapi.. paling tidak sih, yang model begini yang saya cari sejak zaman SMA.
Jangan dulu bicara bagaimana saya bisa berkenalan dengan si Penyanyi ini. Untuk bertemu saja, saya rasa ini tentu sangat sulit terwujud. Bahkan, kalau saya bilang “Woi, gua jatuh cinta nih sama si Nganu ini..” pasti saya dikatai gila, karena itu adalah hal yang memang sepintas terdengar idiot untuk orang seukuran saya.
Jatuh hati pada seseorang berlabel “Artis” dan berharap bisa berkenalan lebih jauh mungkin adalah bak mimpi di siang bolong. Tapi lagi-lagi postingan Yusuf di timeline akun Line-nya membuat saya semakin percaya diri sebagai pemimpi di siang bolong. Dalam tulisannya, Yusuf mengutip sebuah kalimat, entah itu dia baca dari buku seorang motivator handal atau entah siapa, tapi isinya cukup menghenyak saya, yang selalu dilabeli “pemimpi di siang bolong” sejak kecil. Berikut isi tulisannya:

“Semua orang bermimpi, tapi tak sama. Mereka yang bermimpi di malam hari dalam kesadaran yang samar-samar akan menemukan bahwa mimpi mereka kosong melompong: tapi, para pemimpi di siang bolong adalah orang yang berbahaya, karena bisa mewujudkan mimpi mereka dengan penuh kesararan, agar menjadi kenyataan.” – T.E Lawrence (The Seven Pillars of Wisdom)

Saya tidak tahu dan tidak mau tahu rasa kagum terhadap penyanyi jazz ini relevan atau tidak jika disandingkan dengan kutipan diatas. Hanya yang jelas, sejak saat itu saya tidak takut kalau harus bermimpi di siang bolong.
Kembali ke si penyanyi Jazz cantik tadi. Sebenarnya saya sudah dari jauh-jauh waktu pernah mendengar namanya, bahkan sejak masih duduk di bangku SMA, sekitar pertengahan tahun 2012 sampai awal 2013-an kalau tidak salah. Seingat saya, dia dulunya adalah vokalis band, lalu pada akhirnya menjadi solois. Di sekitaran tahun-tahun itu jugalah saya samar-samar pernah melihat dia (sepertinya dengan bandnya) manggung di salah satu kampus kenamaan di Depok.
Setelah namanya sebesar sekarang, saya sudah dua kali bertemu dengan dia. Di akhir Mei 2016, dan di satu malam saat bulan Ramadhan tahun 2016. Dan pertama kali meliput dia di sebuah acara kampus yang cukup megah yang “menjual” nama jazz, tapi dengan esensi jazz yang kurang terasa. Tapi, di tulisan ini saya tidak akan membahas acara tersebut. Yang jelas, di acara tersebut saya hanya meliput dan memotret dia saat manggung saja, tidak bertemu dalam arti bertatap muka.
Penyanyi ini memiliki tipikal ramah, santai, apa adanya. Saya tidak tahu dia “doyan” merokok atau bagaimana, hanya kerap kali saya melihatnya sedang menghisap rokok putih saat sedang checksound atau di belakang panggung. Saya lupa, dulu saat pertama kali melihat dia manggung di kampus teman di Depok (sebuah kampus ternama, yang mana tokoh Ikal dan Arai di film Sang Pemimpi kuliah di kampus tersebut) apakah dia sudah merokok sejak itu atau bagaimana, saya kurang tahu. Hanya yang saya amati adalah perubahan rambutnya.
Dulu model rambut dia di bob pendek khas vokalis-vokalis band perempuan, sehingga saya sempet nyeletuk: “Wah, lucu nih vokalisnya,” atau setara kalimat “Leh Ugaa!” lah kalau disejajarkan dengan tren di 2016 sih. Hanya sayang, memori saya yang tergolong rendah ini tidak sampai merekam dia (dan mungkin bandnya) membawakan lagu apa saja saat itu, karena yang saya ingat lagunya berbahasa Inggris. (info: skill Bahasa Inggris saya amat jeblok.)
******

            Katakanlah sejak semester 4 ini, saya mulai naksir dia. Sudah satu semester berarti ya, karena terhitung sejak Juli 2016 lalu, semester 4 sudah berakhir. Saya membuat tulisan ini ditengah-tengah masa libur panjang menjelang semester 5 dimulai.
Sebagian orang, apalagi yang seumuran dengan saya, banyak menghindari rasa kagum berlebih terhadap public figur, apalagi bagi seorang laki-laki. Saya tidak menampik, di awal saya seperti gengsi untuk mengumbar kekaguman saya terhadap si wanita penyanyi jazz cantik ini.
Tapi entah sepertinya karena kondisi hati sedang benar-benar kosong, dan latar belakang trauma psikologis (takut ditolak yang ke-23 kalinya) kalau mendekati lawan jenis yang masih satu frekuensi pergaulan (teman kuliah, temannya teman, dan atau apapun itu, katakanlah sesama Mahasiswa) akhirnya saya mantap untuk naksir si penyanyi ini sajalah.
Pembaca yang budiman, saya merasa kalau kita jatuh hati terhadap wanita yang perbedaannya bagaikan langit dan bumi dengan kita, seperti ada “toleransi” andai kita gagal mewujudkan mimpi kita bersama sang Idola. Analoginya, seperti timnas Indonesia jika lolos ke putaran final Piala Dunia.
Kasarnya, meski kalah di fase grup tanpa memasukkan satu gol ke gawang lawan sekalipun, mereka tidak akan dicaci maki oleh sekitar karena adanya faktor pemikiran realistis dari kebanyakan orang yang melihat. (ini hanya analogi, bukan bermaksud apa-apa terhadap timnas sepakbola Indonesia. Semoga kita juara di Qatar 2022.)
Hanya saja, momen yang agak menyebalkannya sih adalah dimana saya dianggap pemimpi di siang bolong tiap saya mengumbar kekaguman terhadap si penyanyi ini. Tapi, saya berterima kasih betul pada kutipan di Timeline akun Line Yusuf yang saya tulis di atas.
Saya bermimpi di siang bolong. Mimpi saya: jadi pacar si penyanyi itu, lalu kedepannya.... Ah, kejauhan. Yang terdekat sih baru itu pokoknya. Apa artinya, karena saya bermimpi di siang bolong maka saya berniat dengan penuh kesadaran untuk mewujudkannya? Oh jelas iya. Tapi bukan dengan cara yang gombal dan dibilang receh.
Maka di titik ini, cara pandang Rezha lah yang bermain: yakni mengalihkan energi jatuh cinta menjadi energi positif yang amat saya perlukan untuk tetap menjaga spirit pergi ke kampus, spirit menulis dan menyelesaikan buku pertama saya “Budjang The Story” ada juga spirit saya menulis lirik lagu dan merekamnya untuk koleksi pribadi, juga semangat bekerja sampingan sebagai fotografer dan jurnalis musik yang masih lepas. Di awal, saya tidak tahu bagaimana caranya, karena yang jelas, si “converter” pengalih energi itu tidak dijual di supermarket. Ha-ha-ha!
Jelas semua orang tahu kalau ekspektasi saya adalah jika saya sukses jadi penulis, atau sukses jadi fotografer band ternama, atau sukses jadi wartawan musik di majalah musik ternama, bukankah itu akan membuat kasta frekuensi saya naik? Katakanlah saat ini saya adalah petinju kelas bulu ringan (kelasnya Chris John) sedangkan si Penyanyi jazz itu ada di kelas welter (kelasnya Many Pacquiao.) katakanlah perbedaan kelasnya dia (atau Pacquiao) adalah 2 kelas diatas saya (Chris John.)
Artinya untuk saat ini, Chris John dan Pacquiao tidak akan mungkin jadi kandidat lawan, apalagi bermain dalam satu ring karena kelasnya berbeda. Namun hal itu bisa terjadi jika Chris John naik sebanyak dua kelas, dan Pacquiao tidak naik kelas. Atau jika Pacquiao naik satu kelas, maka Chris John harus naik kelas lebih dari 2 (atau lebih tepatnya naik sekaligus tiga kelas) agar bisa berhadapan dengan Pacman.
Itu secara analogi ya. Sekarang kita aplikasikan ini ke dalam cerita saya. Realitanya, saya tidak akan mungkin menjadi kandidat pacar, apalagi jadi pacar si Penyanyi ini. Kecuali saya (minimal) jadi orang yang satu frekuensi dengan dia (entah itu jadi wartawan majalah musik ternama di Indonesia, entah saya harus jadi fotografer band cluster satu di Indonesia, jadi penulis setara Raditya Dika, atau Andrea Hirata. Atau lebih ekstrim lagi: saya jadi musisi yang punya nama setara dengan dia.) Yang jelas, saya harus (minimal) punya sesuatu kelebihan yang membuat si Penyanyi ini bisa mengenal saya.
Good point! Saya menjadikan perasaan ini sebagai salah satu trigger untuk mencapai cita-cita (yang sejatinya ingin menjadi seorang Jurnalis dan Penulis.) Urusan nanti jika saya berhasil mencapai cita-cita tersebut saya akan pacaran dengan si penyanyi ini atau tidak ya itu sih gimana nanti. Toh, usia kami terpaut 5 tahun. Kalau saya sukses di usia 25, artinya usia dia sudah 30 tahun. Dan kalau kami pacaran, katakanlah setahun dan menikah, maka usia saya 26, dan dia 31. Maka saya punya anak saat usia saya 27 tahun, dan dia 32 tahun. Saya tidak tahu apa ini jadinya akan sangat seksi dan ideal untuk sebuah keluarga sakinah atau justru saya hidup dengan orang yang terlampau diatas?
Atau jangan dulu bicara kesana lah, kita pikirkan kemungkinan yang lebih buruk lagi bagi saya: 2 tahun kedepan, sebelum saya mencapai cita-cita, eh ternyata si Penyanyi ini keburu menikah. Itu akan benar-benar fail!
Ha-ha, imajinasi ini memang terkesan kejauhan, tapi.. kadangkala jatuh cinta bisa membuat pemikiran si penderitanya jadi liar. Oh, liar.. Saya jadi ingat salah satu lagu berjudul ini. Ha-ha-ha, sudahlah!
Tips mendasar yang bisa saya jelaskan saat kita memiliki gebetan artis adalah: cari artis yang sekiranya masih bisa kita kejar frekuensinya, lalu jadikan dia motivasi supaya kamu semakin dekat dengan pekerjaan yang juga akan mendekatkan si artis itu dengan kita. Dan kemudian, nikmati proses “mengejar frekuensi” itu sebaik-baiknya. Dan setelah kamu mencapai cita-citamu itu, urusan kamu akan bisa jadian atau tidak dengan artis gebetanmu, itu nomor sekian. Setidaknya, ada 2 pilihan menanti saat kamu mencapai cita-cita yang tadi: Pertama, kamu dapatkan rejeki (harta) kepercayaan (atau elegannya tahta) dan si artis gebetan dari cita-citamu itu (wanita) atau kamu hanya mendapatkan rejeki dan kepercayaannya saja.
Ambil contoh seperti Nazriel Irham, Vokalis Noah yang lebih akrab disapa Ariel. Konon katanya, lagu “Khayalan Tingkat Tinggi” adalah karyanya yang diciptakan karena terinspirasi dari kekagumannya terhadap artis cantik Tamara Blezensky. Dan bisa jadi... Ariel menjadikan si kekagumannya ini sebagai trigger supaya dia mencapai impiannya untuk menjadi musisi sukses, Wallahu alam.. Yang jelas, Ariel tahun 2001, yang hanya jadi penyanyi cafe, dan Tamara dengan segala kecantikan dan deretan sinetron dan iklannya di televisi sangatlah jauh sekali frekuensinya.
Tapi lihat sekarang. 15 tahun kemudian. Ariel, yang kendati tidak mendapatkan Tamara, tapi dia mendapatkan rejeki, dan kenikmatan yang mungkin lebih besar jumlahnya.
Oh ya, ngomong-ngomong semester 4, jadwal kuliah saat itu sangatlah tidak bisa bersahabat dengan saya. Tapi hanya bisa berteman, atau mungkin adik-kakak-an saja (ciee, korban PHP adik-adikan masa kini. Hahaha)
Tiga kali dalam seminggu, saya harus masuk pukul tujuh pagi! Dan itu semua harinya berdempet: Rabu, Kamis, lalu Jum’at. Dosen yang mengajar jam tujuh juga semuanya dosen yang menerapkan aturan toleransi terlambat selama 15 menit dan kalau telat, maka out!
Pola tidur saya yang sudah rusak karena di semester tiga banyak jadwal kuliah sore, membuat saya harus sigap beradaptasi. Di awal semester, saya sempat keteteran. Terbiasa baru tidur jam 5 pagi, kini jam segitu menjadi ideal saya harus bangun dan mandi sebelum akhirnya berangkat pukul enam pagi.
Rasa kantuk jelas mengganggu. Jelas.. Lalu, tahukah kalian apa alasan saya untuk tidak bolos kuliah karena ingin lanjut tidur? Ya, karena saya tidak mau transkrip nilai turun. Kalau transkrip nilai turun, ujungnya IPK saya kecil. Dan IPK kecil nantinya akan menyulitkan jalan saya untuk kerja di media musik ternama. Kalau gagal kerja jadi wartawan musik, bagaimana saya bisa menyusul frekuensi si.... Eaaaaa, jadi malu deh! Ha-ha-ha..
Kelihatannya sederhana, tapi kalau dirunut secara rinci dan sedikit bumbu sok serius, kok sepertinya berat juga ya? Ha-ha-ha.
Maka dari itu, ada ritual unik yang biasa saya lakukan: memutar video klip si penyanyi jazz ini di laptop sambil memandanginya tepat setengah meter didepan layar laptop sebanyak tiga kali putaran sesudah mandi dan sembari sarapan cemal-cemil roti, menyeruput kopi hangat dan menghisap rokok supaya badan ini hangat.
Tahu apa dampaknya? Cenghar.
Cenghar adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya (kurang lebih) adalah segar bugar atau semangat. Seperti pasangan yang baru dua hari jadian. Ha-ha. Saya kurang mengerti bidang psikologi apa yang berkonsentrasi meneliti dampak melihat senyum orang yang kita sukai terhadap motivasi kita untuk lebih giat melakukan sesuatu.
Selama jadwal pagi di semester 4, saya rutin melakukan ritual tersebut setiap pagi dan tidak pernah bosan. Kalau saya sedang menulis dan kehabisan ide, saya lakukan ritual aneh itu. Belakangan saya mendapat orderan foto prawedding dan kehabisan ide saat proses editing. Dan saya memecah kebuntuan itu lewat ritual aneh yang sama.
Dampak luar biasanya: sejak ritual itu saya lakukan, saya tidak pernah terlambat masuk pagi di Semester 4, semangat belajar naik drastis, transkip nilai berangsur membaik. Dari asalnya 2.65, naik menjadi 3.00, dan berkat andil tidak adanya nilai C, apalagi D dan E di semester 4, si transkip naik jadi 3.22. Di lain sisi, orderan foto saya mendapat rating yang not bad dari klien. Dan saya juga tidak pernah kehabisan bahan untuk terus menulis.
Meskipun ini tidak berpengaruh banyak bagi kehidupan siapapun, hanya saya merasa hal ini adalah “kemajuan” bagi saya. Yang awalnya saya malas-malasan karena galau, sekarang seperti menemukan semangat hidup kembali. Dan dari situ, saya menemukan banyak pekerjaan baru, dan menghasilkan sejumlah uang guna memperbaiki peralatan memotret dan sisanya saya tabung.
Bukan pencapaian yang fantastis memang, namun adanya kemajuan kesejahteraan hidup ini saya dapatkan dengan motivasi yang terkesan freak: karena jatuh hati dengan artis penyanyi jazz. Ha-ha-ha, ini sungguh diluar konsep hidup yang saya kepikiran untuk membuatnya. Tapi seru!
Seiring berjalannya waktu, saya beberapa kali diajak oleh grup berformat Keroncong asal Bandung untuk mendokumentasikan perjalanan manggungnya ke beberapa kota besar. Menyenangkan! Menjadi fotografer band adalah langkah awal jika kita ingin memperluas frekuensi di bidang entertain, khususnya musik. Berkenalan dengan fotografer band lainnya, atau bahkan kerap bertukar job memotret, itu menandakan kalau frekuensi fotografer band (yang notabene orang Non-Artis) akan sama dengan si Artisnya.
Di beberapa kali “panggilan” untuk ikut dengan rombongan grup Keroncong ini, kadang saya bertanya-tanya, siapa saja line-up di stage nya nanti? Apakah penyanyi itu juga manggung di acara yang sama? Kendati dia adalah seorang penyanyi jazz, tidak ada yang bisa menampik dia akan manggung di acara Keroncong, yang kini tak lagi terkesan “jadul.”
Apalagi saat saya membaca di biografinya, kalau nenek dari si Penyanyi jazz ini adalah seorang penyanyi keroncong, dan dia terinspirasi dari sana. Dan saya juga pernah melihat di postingan akun Instagram entah siapa karena saya lupa, kalau si Penyanyi ini pernah manggung di acara yang bertema kebudayaan, mengenakan kebaya. Sehingga saya yakin kalau suatu saat pasti akan ada momen dimana grup Keroncong yang merupakan ”bendera” yang saya bawa saat memotret acara akan satu panggung dengan penyanyi ini. Entah kapan dan dimana, tapi saya yakin itu akan terjadi. Makanya, setiap kali bos grup Keroncong itu menelepon, saya langsung bertanya-tanya dalam hati: apakah si Penyanyi itu manggung di acara yang sama?
Hal ini semakin diperkuat saat gitaris dari grup Keroncong tersebut, yang merupakan kakak tingkat di SMA, bercerita kalau beberapa tahun sebelumnya, gitaris dari si penyanyi ini pernah mengajaknya membuat project musik bernuansa jazz begitulah. Namun, itu tidak terwujud karena beberapa hal.
“Dulu dia pernah ngajak aku di sebuah proyek, jazz-jazzan gitu.” Ujarnya, datar.
Saya tertegun. Artinya, sekarang frekuensi saya tidak jauh-jauh amat dengan si Penyanyi ini. Paling tidak dalam hidup saya sudah ada orang yang kenal dengan saya, dan orang itu kenal dengan orang yang kenal dengan si Penyanyi jazz tersebut. Kini jarak kami, yang awalnya dua frekuensi, menjadi tinggal satu frekuensi.
Saya teringat pengalaman Rezha, yang beberapa kali mendapat akses memotret penyanyi ini. Belakangan, Rezha mendapat proyek besar dengan salah seorang additional player si Penyanyi ini. Konon, perkenalan mereka dimulai dari pekerjaan Rezha di sebuah band asal Bandung yang punya nama lumayan besar, dan salah satu personil di band tersebut juga merupakan additional players di band pengiring si Penyanyi ini. Dari situlah Rezha diperkenalkan pada personil band pengiring lainnya. Rezha pernah satu kali memberi saya akses masuk memotret si Penyanyi ini. Dan akses inilah yang juga sempat mempertemukan saya dengan si Penyanyi, kendati hanya dua menit rasanya dan dibumbui rasa deg-degan yang luar biasa.
Terinspirasi dari pekerjaan Rezha, kini saya menjalani profesi yang mirip-mirip lah, namun dengan porsi yang lebih santai karena saya harus membagi waktu antara memotret, menyelesaikan tulisan, dan kegiatan lainnya. Hanya saja, ada satu hal yang saya tunggu dalam pekerjaan memotret band ini: saya menunggu grup manapun dimana tempat saya bekerja akan satu panggung dengan si Penyanyi itu.
*****
Saya kadang berfikir, coba kalau Tuhan “menitipkan” hati saya pada tatap mata anak kampus, atau orang yang satu frekuensi pergaulan dengan saya. Maka konsepnya jelas: saya akan mudah untuk pendekatan dengan dia, lalu endingnya saya ditolak, patah hati, makin hancurlah hidup saya.
Sumpah, Tuhan menyayangi saya dengan cara yang benar-benar unik. Dia menitipkan hati saya pada tatapan mata yang tipis karena kalau si pemiliknya tertawa, sisa matanya itu hanya satu garis saja; mirip sekali dengan mata saya (ini serius. Saya adalah seorang The Sipit-ers, wahai pembaca! Xi-xi-xi)
Tuhan menitipkan hati saya pada orang yang tidak satu frekuensi dengan saya agar saya bisa semangat untuk mengejar frekuensi si orang tersebut. Tuhan melakukannya karena dia tahu, saya akan merasa minder dan lebih memilih memendam dan memilih jalan melakukan substitusi (yakni mengalihkan energi jatuh cinta itu ke hal positif lainnya) dan hebatnya, saya seperti diberi “converter” si pengubah energi dari rasa suka menjadi semangat dalam mengerjakan sesuatu itu sepaket saat saya merasa jatuh semakin dalam! Tuhan menjauhkan saya dari rasa patah hati, karena dia tahu saya akan dikecewakan lagi kalau harus jatuh cinta dengan orang yang satu frekuensi dengan saya.
Lalu andai semua yang saya ekspektasikan tercapai, entah saya tidak tahu konsepsi buatan-Nya selanjutnya akan bagaimana. Hanya, baru diajak bermain sampai titik ini saja, saya benar-benar jatuh cinta kepada permainan Tuhan yang ini. Sungguh!
Maka dari itu pembaca yang budiman, saya rasa jatuh cinta yang paling aman bagi mereka yang kerap dikecewakan adalah jatuh cinta dengan orang yang berbeda frekuensi dengan kita. Misalnya dengan artis (yang frekuensinya berbeda satu sampai dua tingkat diatas kita.) karena dengan begitu, maka kecil kemungkinannya untuk saling berdampingan, apalagi mengobrol. Dan dengan itu, maka kecil juga kemungkinan (kita) akan dikecewakan.
Dan bagi pembaca yang sedang mengalami hal serupa dengan saya, tips mendasarnya sudah saya jelaskan diatas. Jika perlu diulangi: jadikan dia (si gebetan artismu itu) motivasi supaya kamu semakin dekat dengan pekerjaan yang juga akan mendekatkan si artis itu dengan kita. Dan kemudian, nikmati proses “mengejar frekuensi” itu sebaik-baiknya.
Nikmatilah proses jatuh hati, sebelum patah hati datang menghampiri!