Rabu, 28 November 2018

#BTS Vol 1: Mata Pelajaran


Hanya di SSB
PR Matematika tak se-menyeramkan hafalan Major atau Piano Wajib…

Saat teman-teman sebaya saya takut terjerumus di jurusan IPA saat penjurusan SMA dan berharap bisa masuk ke penjurusan IPS karena menghindari mata pelajaran matematika, maka saya tak merasakan fase itu: ya, di seni pertunjukan, mau IPA mau IPS, rasanya semua dianggap tak penting. Haha.


Tapi memang benar. Awalnya saya tidak menduga sampai sebegitu tak berharganya  ya matematika; momok yang menakutkan kawula remaja di SSB. Kendati begitu, bukan berarti saya akan melalui fase sekolah tanpa beban. Justru tiga kali lipat beban saya bertambah karena tiga mata pelajaran mematikan: piano wajib, major, dan ensembel.

Dan matematika itu sendiri. Hahaha!

Jadi begini pembaca yang budiman, selain belajar mengenai kejuruan seni pertunjukan, siswa SSB juga mempelajari mata pelajaran biasa seperti anak SMA pada umumnya; ada mata pelajaran olahraga, PPKN, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah, IPS, IPA, Kewirausahaan, dan musuh besar saya: Matematika!

Mata pelajaran tadi digolongkan sebagai mata pelajaran adaptif, yang artinya, tak begitu banyak mempengaruhi kelulusan atau kelayakan siswa untuk naik kelas. Banyak anak-anak yang nilai mata pelajaran normatifnya jelek, namun tetap bisa naik kelas bahkan lulus sekolah!

Ya, itu karena nilai mata pelajaran normatif mereka bagus. Apa itu mata pelajaran normatif? Mata pelajaran normatif adalah mata pelajaran yang mempengaruhi kelayakan siswa untuk naik kelas dan bahkan lulus sekolah. Diantaranya adalah: piano wajib, mayor, ensembel, teori musik, solfegio. Dan nanti di kelas dua ada mata pelajaran Harmoni SATB, Musik Daerah dan Midi, di kelas tiga ada mata pelajaran Wawasan Musik dan Analisa lagu. Satu persatu mata pelajaran ini akan saya jelaskan di bawah.

Konon, menurut cerita para senior, banyak anak SSB yang gugur alias tak naik kelas karena nilai mata pelajaran normatifnya jeblok. Jika toleransi masih berlaku untuk mata pelajaran adaptif, maka itu tak berlaku untuk mata pelajaran normatif. Dan itu saya lihat sendiri dan hampir mengalaminya.

Tapi ceritanya nanti dong, di fragmen yang lain. Hahaha.

Selain itu, mata pelajaran normatif secara tidak langsung menentukan “kasta” kita diantara murid seni musik SSB lainnya. Siswa yang nilai mata pelajaran normatifnya bagus, maka ia akan dianggap dewa oleh teman-temannya dan biasanya menduduki kasta yang tinggi dalam hegemoni kerajaan bernama SUKSES (Suara Kumpulan Seniman Sukses) yang merupakan sebutan untuk nama himpunan siswa seni musik SSB.

Luki adalah salah satu ‘korban’ dari kejamnya mata pelajaran normatif. Ia tak naik kelas karena mendapat nilai jeblok di salah satu mata pelajaran normatif, yakni ensembel. Alhasil, ia mengulang dengan angkatan kami.

Awalnya, saya kira hanya Luki seorang yang mengulang bersama angkatan kami dan pastinya menunda kelulusan sekolah selama satu tahun. Tak diyana, ada banyak juga siswa kelas dua yang harus bergabung dengan angkatan kami. Dari tiga kelas yang rata-rata dihuni oleh 30 siswa per kelasnya, jumlah anak tidak naik mencapai 25 persen atau sekitar 5 sampai 6 orang per kelasnya. Jumlah yang tak sedikit untuk level Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan. Gael, Ajay, Izar, Nanda, dan, sisanya saya lupa, adalah anak kelas dua yang tak naik. Kasusnya sama: nilai normatif mereka jeblok. “Kasta” mereka di angkatan aslinya pun seakan berada dipaling bawah. Itu bisa terlihat dari bahasa tubuh anak-anak yang naik kelas, yang sedikitnya, ada maksud meledek. Namun, tentu saja hal itu tidak terjadi secara blak-blakan, meski ada juga yang demikian. Akan tetapi, karena mengulang dengan angkatan baru, dengan kami-kami yang tak tahu apa-apa, mereka jadi punya peluang untuk memperbaiki “kasta” mereka. Itu dibuktikan Luki dengan menjadi The Best Guitar Player di ujian akhir kenaikan. Saya tak akan membahasnya disini ya. Kamu akan menemukan topik ini kembali di fragmen lainnya. Haha.

Kembali ke mata pelajaran…

Jika pembaca yang budiman sudah tak asing dengan mata pelajaran adaptif yang saya sebutkan diatas seperti Matematika, IPA, IPS ataupun Bahasa Inggris, maka saya akan jelaskan satu persatu mata pelajaran normatif yang ada di SSB.
Yang pertama adalah Piano Wajib; mata pelajaran yang cukup membuat anak-anak seni musik kelabakan. Pengecualian untuk mereka yang mengambil mayor Keyboard. Karena meskipun secara disiplin ilmu terdapat beberapa perbedaan, namun pada dasarnya ada kesamaan cara bermain antara kedua alat musik ini, seperti misalnya pada disiplin jari dalam peletakan akor. Nah, untuk kamu yang belum tahu: keyboard dan piano itu berbeda. Kalau piano (atau piano akustik) itu dimainkan tanpa energi listrik karena berasal dari getaran senar, lain halnya dengan keyboard, yang menggunakan listrik sebagai sumber tenaga. Selain itu, yang saya tahu sih, piano itu saat dimainkan, tuts-nya terasa lebih berat dari keyboard. Saya tak banyak tahu pasti soal perbedaan kedua alat musik ini, jadi untuk info yang lebih akurat, kamu bisa googling dengan kata kunci: perbedaan piano dan keyboard. Hehehe.

Jadi, mata pelajaran Piano Wajib ini adalah mata pelajaran yang mewajibkan kami, siswa seni musik SSB untuk setidaknya bisa memainkan piano, walau hanya dasar-dasarnya saja. Akan tetapi, materi untuk Piano Wajib tak sedangkal tujuannya. Bahasa musik, yaitu partitur, tetap menjadi santapan kami. Pak Boris adalah guru untuk mata pelajaran ini saat kelas satu. Beliau adalah wakil kepala sekolah, yang juga merupakan pengajar yang disegani di jurusan seni musik tradisional. Tergolong guru yang galak, karena sering merazia rambut kami-kami yang gondrong. Haha. Meski begitu, sebenarnya beliau adalah sosok yang humoris. Wajah Pak Boris mengingatkan saya pada salah satu tokoh di film Face Off.

Mata pelajaran ini dijumpai oleh kami sebanyak satu kali dalam seminggu. Tugas untuk mata pelajaran ini adalah mempelajari penjarian dasar, dan membaca sekaligus memainkan lagu sederhana dengan etude nya sehingga meskipun lagunya sederhana, tetap saja akan menjadi rumit. Hahaha. Kami juga mendapat fotokopian partitur lagu yang dijadikan materi mata pelajaran Piano Wajib. Lagu tersebut adalah You Raise Me Up, yang dipopulerkan oleh Josh Gorban.
Yang kedua adalah ensembel. Salah satu mata pelajaran “penjegal” kenaikan kelas, khususnya bagi mereka yang tak punya kemampuan mumpuni dalam memainkan alat musik. Jangan sekali-kali mengira anak seni musik SSB semuanya mahir memainkan alat musik. Meski mungkin pernyataan itu tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar, tapi mau mahir atau tidak, kalau nilai ensembel jeblok, ya tetap saja mereka tak bisa naik kelas. Guru pada mata pelajaran ini adalah Sonjaya Seriosa. Saya sendiri masih bingung bagaimana akhirnya Sonjaya bisa menjadi guru kepala untuk mata pelajaran ini dan di tahun debutnya sebagai guru, karena pada pertemuan pertama, statusnya hanya sebagai asisten Pak Pram. Konsepnya mirip seperti di tingkat perguruan tinggi. Mata pelajaran ini diampu oleh Pak Pram, dan Sonjaya hadir sebagai pendamping Pak Pram atau pengganti sementara jika Pak Pram berhalangan hadir. Konsep dosen dan asisten dosen lah. Namun, itu hanya berjalan selama satu bulan. Pak Pram yang menjadi guru pengampu, tak lagi mengajar ensembel pada bulam kedua. Posisinya digantikan oleh Sonjaya dan dirangkap oleh kehadiran guru baru yang merupakan gitaris metal kenamaan di Bandung: Andre Darmana.

Ensembel, sejatinya adalah bersama-sama. Tentu, itu merupakan penjelasan saya menggunakan logika yang amat dangkal. Hehe. Kalau kamu main-main ke fakultas seni di beberapa perguruan tinggi yang ada jurusan seni musik-nya, biasanya akan ada satu waktu dimana mahasiswa membuat sebuah pagelaran ensembel alat musik; ensembel gitar, misalnya. Dikatakan ensembel karena dalam sebuah pagelaran tersebut terdapat banyak pemain gitar (bisa 5, 7, 14 atau mungkin 20 pemain gitar) yang memainkan satu komposisi lagu secara bersamaan.
Namun, ensembel dalam mata pelajaran di seni musik SSB tentu berbeda dengan konsep ensembel alat musik yang tadi saya jelaskan. Ensembel di sekolah saya adalah ensembel combo band, yang mana mata pelajaran ini menuntut siswa untuk bisa memainkan combo band dengan benar.
Sedikit informasi, combo band adalah (bahasa sederhananya) bermain band. Namun, bermain band disini bukan sekadar bermain band yang brang breng brong begitu. Ada pakem-pakem yang harus dipatuhi oleh siswa seni musik SSB dalam memainkan combo band. Salah satunya adalah menuliskan partitur dari materi yang akan dibawakan.
Untuk siswa kelas satu, penulisan partitur belum diberlakukan. Para siswa hanya ditugaskan menulis skor untuk materi yang akan dibawakan. Dalam satu bulan, ada dua genre musik yang wajib dibawakan oleh siswa dalam mata pelajaran ini. Definisi dari dibawakan ini adalah disajikan atau dimainkan di ruang praktek, dan tak lupa mengumpulkan skor atau partitur.
Mata pelajaran ini dijumpai oleh siswa satu kali dalam seminggu. Minggu pertama adalah pengenalan genre musik, minggu keduanya praktik dan penilaian. Jika rata-rata siswa lancar dalam praktik ensembel di minggu kedua, maka di minggu ketiga bisa dilanjut ke perkenalan genre musik berikutnya, dan dilanjut praktik lagi di minggu keempat. Begitu kurang lebih Rencana Studi di mata pelajaran ini, meski pada kenyataannya di lapangan, tak sedikit juga siswa yang akhirnya membuat rencana studi yang dirancang molor dari waktu target awal. Hahaha.
Sedikit informasi mengenai partitur atau skor. Mungkin nama partitur tak asing bagi kamu yang sekalipun itu awam tentang musik. Saya sarankan untuk googling saja jika kamu ingin mengetahui arti partitur dalam versi yang lebih benar. Penjelasan sederhana saya: partitur adalah transkip komponen lagu ke dalam bentuk teks atau simbol bahasa musik. Partitur identik dengan not balok dan simbol birama, ketukan, atau ritmis dan bahasa musik lainnya. Sedangkan skor adalah transkip progresi akor dalam lagu yang dituangkan kedalam bentuk teks dan simbol. Saya rasa, di internet sudah cukup banyak contoh skor musik untuk dilihat. Hehe.
Mata pelajaran berikutnya adalah Mayor atau Pilihan Kompetensi (PK). Karena singkatan PK kadung berkonotasi negatif di kalangan orang-orang kita yang jika saya tulis akan menimbulkan salah persepsi pembaca, maka mata pelajaran ini saya sebut Mayor. Di level perguruan tinggi, pilihan kompetensi biasa disebut Mayor.

Saya mengambil mayor gitar elektrik di jurusan seni musik SSB. Lagi-lagi saya harus menjelaskan lagi ya, haha: dalam seni untuk konteksnya akademik, instrumen gitar itu dibagi menjadi dua; klasik dan elektrik. Jika jurusan seni musik-nya adalah musik popular, maka mayor untuk anak  yang bisa dipilih biasanya adalah gitar elektrik. Ada juga jurusan seni musik klasik, yang didalamnya ada mayor gitar klasik. Hal yang sama juga berlaku untuk beberapa instrumen yang menjadi mayor di tiap jurusan seni musik.

Jurusan seni musik di SSB sendiri adalah seni musik non klasik (belakangan, saya dengar berubah istilah menjadi seni musik popular). Itu yang membuat pilihan mayor di SSB adalah instrumen musik yang memang menjadi kebutuhan produksi musik popular (alat band). Hal berbeda terjadi di Sekolah Seni Yogyakarta (SSB-nya Yogyakarta) memiliki jurusan yang berbeda dengan kami. Mereka “menganut paham” musik klasik, sehingga mayor yang tersedia bagi siswanya mungkin sedikit banyaknya berbeda dengan kami.

Di jurusan seni musik klasik, mungkin kamu bisa menemukan mayor seperti piano akustik biola, cello, flute, clarinet, contrabass, atau perkusi. Menurut logika dangkal saya, alat musik itu adalah kelompok alat untuk kebutuhan musik klasik dan orkestra. Untuk perbedaan kedua jurusan di seni musik ini, kamu bisa mencarinya di internet. Hanya yang saya tahu, ada perbedaan displin atau etude dalam mengkaji instrumen di dua jurusan ini.

Kembali ke mata pelajaran, masih ada dua mata pelajaran normatif untuk tingkat satu; solfegio dan teori musik. Sebagian menyingkatnya dengan TDM atau Teori Dasar Musik. Saya yakin, kamu pasti sudah punya gambaran mengenai mata pelajaran TDM, dan kamu pasti berpikir kalau mata pelajaran ini mendalami hal yang tak jauh dari dasar-dasar musik. Hehe. Kalau itu yang kamu bayangkan, maka dugaanmu benar. TDM adalah mata pelajaran yang menuntut siswa SSB untuk mengetahui dasar-dasar musik, namun secara teoritis.

Guru mata pelajaran ini adalah Ibu Icih Astuti. Guru senior yang begitu baik yang nantinya akan menggantikan Harta sebagai ketua jurusan. Saya tak menemui kesulitan berarti selama dua semester mempelajari TDM, karena memang pembelajarannya hanya berkisar soal istilah-istilah didalam bahasa musik saja. Mata pelajaran dasar ini pulalah yang membantu saya dalam memahami mata pelajaran lainnya.

Yang terakhir, ini pasti namanya agak asing untuk kamu yang tak belajar musik secara akademis; ya, solfegio. Mata pelajaran ini, kurang lebih, menuntut siswa SSB mempertajam pendengaran atau hearing mereka. Awalnya, kami diperkenalkan pada not balok dari mulai harga not, jenis birama, arti sukat, dan lain sebagainya. Jika kamu sudah mahir dalam mata pelajaran ini, kamu tak akan kesulitan dalam mempelajari lagu-lagu yang kompleks karena sudah bisa menebak apa saja pola nada yang dimainkannya. Saya cukup lemah di mata pelajaran ini. Maklum, saya belajar gitar dari nol, dan memang menjadi calon juru kunci untuk konteks bobot akademik di SSB. Hahaha. Bagi kamu yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai solfegio, saya rasa tak ada salahnya setelah ini kamu membuka YouTube. Disana ada banyak tutorial mengenai solfegio, yang semoga bermanfaat untuk kebutuhan latihan bermusikmu.

Kenapa saya selalu mengarahkan pembaca yang budiman untuk rajin membuka internet (khususnya untuk istilah-istilah musik dalam tulisan ini?) karena saya tak ingin kamu minim sumber. Meski lulusan sekolah musik, saya masih merasa miskin sumber dalam membedah musik, sehingga saya rasa membandingkan isi tulisan saya dengan sumber lain pun tak masalah jika kamu tertarik menguliknya lebih dalam. Hehehe.

Oke, kembali lagi. Untuk mata pelajaran tingkat satu, itulah dia daftar mata pelajaran normatif yang menghantui tidur saya 7 kali 24 jam. Hahaha. Saya minta maaf kalau di sub-fragmen ini, hampir tak ada dinamika dalam catatan saya, karena tujuan dari sub-fragmen ini adalah sebagai “kamus” jika kamu mengalami kebingungan saat membaca cerita ditengah-tengah nanti. Untuk kamu yang melewati sub-fragmen ini sampai selesai, saya rasa kamu tak akan merasa bingung saat menemukan istilah mata pelajaran yang aneh di sub-fragmen berikutnya.

Masih ada beberapa mata pelajaran lagi yang harus saya jelaskan sebenarnya, bagaimana ya? Baiknya saya jelaskan sekarang atau di sub-fragmen berikutnya ya? Hehe. Sebentar, saya diskusi dulu dengan penyunting buku.

****
Setelah berdiskusi dengan penyunting, maka keputusan pun diambil: saya akan menjelaskan satu-persatu sisa mata pelajaran yang belum saya jelaskan. Jadi di fragmen berikutnya, saya tak perlu mengulang lagi, ya. Di tingkat dua, mata pelajaran normatif tidaklah berkurang, justru bertambah! Hahaha. Ada mata pelajaran Harmoni SATB, MIDI, Musik Daerah, dan Penampilan. Pergantian mata pelajaran baru terjadi di tingkat tiga, dimana mata pelajaran solfegio, piano wajib, dan musik daerah sudah selesai. Namun ada dua mata pelajaran tambahan, yakni Wawasan Musik dan Analisa Lagu.

Saya tak mengerti apakah seluruh mata pelajaran itu terlalu berat atau tidak untuk ukuran anak SMA, hanya saja setelah menjadi alumni, saya merasa sedikit lebih keren dari teman-teman lain yang belajar Geografi, Sosiologi, Kimia, atau Fisika. Meski nama mata pelajaran itu terlihat keren, namun saya rasa tak sekeren mata pelajaran di jurusan Seni Musik. Hahaha, duh… Saya jadi besar kepala!

Oke, kembali lagi. Di tingkat dua, kami mempelajari Harmoni SATB. Lagi-lagi saya tak merekam dengan baik definisi Harmoni SATB saat belajar di sekolah. Namun, yang saya tangkap, mata pelajaran ini menuntut kami untuk mempelajari pemecahan-pemecahan suara dalam reprotoar. Pernah lihat format bigband manggung? Nah, ada beberapa unsur alat musik disana. Misalnya unsur gesek atau alat musik gesek. Kita persempit lagi alat gesek ini menjadi satu alat: violin atau biola. Nah, entah pernyataan saya ini jitu atau tidak, karena saya tak pernah ikutan bigband, pemain biola yang sampai lebih dari lima orang itu memainkan nada yang berbeda-beda, namun tetap merupakan keluarga dari tonal nada si lagu tersebut.

“Rumus” pembagian nada inilah yang dipelajari dalam Harmoni SATB. Disini, saya jadi tahu komponen akor, interval akor, dan pemecahan suara. Sebelumnya mengenai interval memang sempat dibahas di TDM, namun hanya sekilas saja. Nah, di Harmoni SATB ini, seperti ada spesifikasi khusus dari pembelajaran TDM yang dianggap terlalu umum.

Guru Harmoni SATB adalah Pak Pram. Ya, guru ensembel saat tingkat satu. Namun seperti biasa, “rezim” Pak Pram selalu berjalan tak sampai tamat. Di semester kedua, posisinya digantikan guru baru: Kang Arbi, yang merupakan keyboardist session di grup band ska ternama di Bandung: ya, Bandung Itudia Orkestra! Hehe. Selengkapnya tentang Kang Arbi dan pelajaran Harmoni SATB mungkin akan kamu jumpai di fragmen berikutnya.

Mata pelajaran berikutnya di tingkat dua adalah MIDI. Sebagian dari kamu-kamu, mungkin pernah membaca istilah ini di internet atau mendengarnya dari obrolan ke obrolan. MIDI adalah singkatan dari Music Instrumen Digital Interface. Bagi kamu yang anak band, saat hendak merekam demo lagu namun tak punya biaya yang cukup untuk merekam drumnya secara live, pasti dari pihak studio itu diberi opsi lain yang istilahnya, “Mau drum-nya pakai MIDI enggak?”

Manfaat yang terasa bagi lulusan seni musik SSB jika ia menekuni mata pelajaran MIDI ini diluar kelas adalah: memangkas biaya produksi musik. Ya! Kamu bisa merekam demo di laptopmu.
Sedikit mengenai mata pelajaran ini, kami diajarkan bagaimana caranya membuat home recording atau mungkin bedroom recording. Mungkin kamu kenal musisi Adhitia Sofyan, kan? Nah, beliau adalah musisi yang merekam karya-karyanya di kamar kreatifnya. Disinilah manfaat dari mata pelajaran MIDI, walau Adhitia bukanlah lulusan SSB. Hehe.

Jadi intinya, hasil mata pelajaran MIDI adalah para siswa diharapkan bisa mengaplikasikan produksi musik melalui perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat kerasnya sudah tentu laptop atau komputer, sedangkan perangkat lunaknya bervariasi. Saat itu, kami mempelajari perangkat lunak keluaran Steinberg, yakni Cubase dan Nuendo. Meski kami juga sempat dikenalkan pada perangkat lunak Cakewalk dan Fruity Loops.

Di tingkat dua, tak tanggung-tanggung kami memiliki guru yang, saya pribadi, menghormatinya. Ya: ayah Mario. Masih ingat cerita saya saat test di jurusan seni musik? Ya, salah satu pengujinya itu yang menjadi guru kami. Walau belakangan, Ayah memutuskan hengkang dari SSB karena ada permasalahan internal. Di semester kedua, posisi Ayah digantikan oleh Andre sampai mata pelajaran MIDI dinyatakan tuntas di tingkat tiga semester satu.

Sementara itu mata pelajaran penampilan sebenarnya adalah pelajaran yang menurut saya tak ada kaitannya dengan vokasi seni musik non klasik. Di mata pelajaran ini, kami diminta untuk membuat target jangka panjang dan target jangka pendek. Menurut saya, pelajaran ini adalah upaya Harta untuk lebih dekat dengan muridnya saja. Harta adalah guru mata pelajaran ini.

Berbeda dengan angkatan kami, angkatan Dayuh (satu angkatan diatas saya) tak mendapat mata pelajaran penampilan ini. Yang ada di angkatan mereka adalah mata pelajaran TTP atau Tata Panggung, dan langsung dipimpin oleh seniman sunda Pak Jajang sebagai gurunya.

Bicara soal seniman sunda, kami sebagai calon praktisi seni musik juga mendapatkan mata pelajaran Musik Daerah di kelas dua. Output untuk mata pelajaran ini adalah agar kami mengenal musik dari daerah kami menimba ilmu. Banyak hal yang saya dapatkan dari mata pelajaran ini. Terutama bagaimana menggabungkan dua unsur musik: modern dan tradisional daerah tanpa merusak estetikanya. Untuk mata pelajaran ini, saya kembali berjumpa dengan Bu Icih, seniman sunda cukup senior di kalangan pendidikan.

Di tingkat ketiga, ada dua mata pelajaran baru yakni Wawasan Musik dan Analisa Lagu. Ekspektasi saya akan kedua mata pelajaran ini ternyata tak sesuai realitanya. Di mata pelajaran Wawasan Musik, yang diajar oleh Harta, kami hanya diberi selebaran fotokopian majalah Musik Buzz dari Rolling Stone Indonesia dan disuruh mempelajarinya di rumah. Sementara pelajaran Analisa Lagu ditiadakan karena Pak Pram sudah hengkang. Terbengkalainya dua mata pelajaran ini juga disebabkan program magang di awal tingkat tiga, dan persiapan Tugas Akhir.

***

Mata pelajaran itulah yang menghantui kami (khususnya saya) siswa seni musik SSB selama enam semester alias tiga tahun. Saat teman-teman seusia kami disibukkan dengan hobi basket, hobi bongkar motor, hobi bermain game virtual atau sekadar PlayStation, kami tak mengenal istilah itu.

Termasuk saya, di awal-awal sekolah di SSB. Belakangan (dan efek pergaulan diluar sekolah) saya menyadari kalau menjadi layaknya anak SMA itu jauh lebih penting ketimbang menjadi the best player atau murid terbaik. Dengan dalil ‘tak mau lagi tercebur ke jurusan sama kalaupun saya lulus dari SSB,’ maka saya memilih tak begitu fokus mempelajari semua mata pelajaran dan mengalihkan referensi (khususnya referensi bermusik saya) di luar sekolah saja.

Yah, setidaknya begitu…