Hanya
di SSB
PR
Matematika tak se-menyeramkan hafalan Major atau Piano Wajib…
Saat teman-teman sebaya saya
takut terjerumus di jurusan IPA saat penjurusan SMA dan berharap bisa masuk ke
penjurusan IPS karena menghindari mata pelajaran matematika, maka saya tak
merasakan fase itu: ya, di seni pertunjukan, mau IPA mau IPS, rasanya semua
dianggap tak penting. Haha.
Tapi memang benar. Awalnya saya
tidak menduga sampai sebegitu tak berharganya ya matematika; momok yang menakutkan kawula
remaja di SSB. Kendati begitu, bukan berarti saya akan melalui fase sekolah
tanpa beban. Justru tiga kali lipat beban saya bertambah karena tiga mata
pelajaran mematikan: piano wajib, major, dan ensembel.
Dan matematika itu sendiri.
Hahaha!
Jadi begini pembaca yang
budiman, selain belajar mengenai kejuruan seni pertunjukan, siswa SSB juga
mempelajari mata pelajaran biasa seperti anak SMA pada umumnya; ada mata
pelajaran olahraga, PPKN, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah, IPS, IPA,
Kewirausahaan, dan musuh besar saya: Matematika!
Mata pelajaran tadi
digolongkan sebagai mata pelajaran adaptif, yang artinya, tak begitu banyak
mempengaruhi kelulusan atau kelayakan siswa untuk naik kelas. Banyak anak-anak
yang nilai mata pelajaran normatifnya jelek, namun tetap bisa naik kelas bahkan
lulus sekolah!
Ya, itu karena nilai mata
pelajaran normatif mereka bagus. Apa itu mata pelajaran normatif? Mata
pelajaran normatif adalah mata pelajaran yang mempengaruhi kelayakan siswa
untuk naik kelas dan bahkan lulus sekolah. Diantaranya adalah: piano wajib,
mayor, ensembel, teori musik, solfegio. Dan nanti di kelas dua ada mata pelajaran
Harmoni SATB, Musik Daerah dan Midi, di kelas tiga ada mata pelajaran Wawasan
Musik dan Analisa lagu. Satu persatu mata pelajaran ini akan saya jelaskan di
bawah.
Konon, menurut cerita para
senior, banyak anak SSB yang gugur alias tak naik kelas karena nilai mata
pelajaran normatifnya jeblok. Jika toleransi masih berlaku untuk mata pelajaran
adaptif, maka itu tak berlaku untuk mata pelajaran normatif. Dan itu saya lihat
sendiri dan hampir mengalaminya.
Tapi ceritanya nanti dong, di fragmen yang
lain. Hahaha.
Selain itu, mata pelajaran
normatif secara tidak langsung menentukan “kasta” kita diantara murid seni
musik SSB lainnya. Siswa yang nilai mata pelajaran normatifnya bagus, maka ia
akan dianggap dewa oleh teman-temannya dan biasanya menduduki kasta yang tinggi
dalam hegemoni kerajaan bernama SUKSES (Suara Kumpulan Seniman Sukses) yang
merupakan sebutan untuk nama himpunan siswa seni musik SSB.
Luki adalah salah satu
‘korban’ dari kejamnya mata pelajaran normatif. Ia tak naik kelas karena
mendapat nilai jeblok di salah satu mata pelajaran normatif, yakni ensembel.
Alhasil, ia mengulang dengan angkatan kami.
Awalnya, saya kira hanya
Luki seorang yang mengulang bersama angkatan kami dan pastinya menunda
kelulusan sekolah selama satu tahun. Tak diyana, ada banyak juga siswa kelas
dua yang harus bergabung dengan angkatan kami. Dari tiga kelas yang rata-rata
dihuni oleh 30 siswa per kelasnya, jumlah anak tidak naik mencapai 25 persen
atau sekitar 5 sampai 6 orang per kelasnya. Jumlah yang tak sedikit untuk level
Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan. Gael, Ajay, Izar, Nanda, dan, sisanya saya
lupa, adalah anak kelas dua yang tak naik. Kasusnya sama: nilai normatif mereka
jeblok. “Kasta” mereka di angkatan aslinya pun seakan berada dipaling bawah.
Itu bisa terlihat dari bahasa tubuh anak-anak yang naik kelas, yang sedikitnya,
ada maksud meledek. Namun, tentu saja hal itu tidak terjadi secara blak-blakan,
meski ada juga yang demikian. Akan tetapi, karena mengulang dengan angkatan
baru, dengan kami-kami yang tak tahu apa-apa, mereka jadi punya peluang untuk
memperbaiki “kasta” mereka. Itu dibuktikan Luki dengan menjadi The Best Guitar Player di ujian akhir
kenaikan. Saya tak akan membahasnya disini ya. Kamu akan menemukan topik ini
kembali di fragmen lainnya. Haha.
Kembali ke mata pelajaran…
Jika pembaca yang budiman
sudah tak asing dengan mata pelajaran adaptif yang saya sebutkan diatas seperti
Matematika, IPA, IPS ataupun Bahasa Inggris, maka saya akan jelaskan satu
persatu mata pelajaran normatif yang ada di SSB.
Yang pertama adalah Piano
Wajib; mata pelajaran yang cukup membuat anak-anak seni musik kelabakan.
Pengecualian untuk mereka yang mengambil mayor Keyboard. Karena meskipun secara
disiplin ilmu terdapat beberapa perbedaan, namun pada dasarnya ada kesamaan
cara bermain antara kedua alat musik ini, seperti misalnya pada disiplin jari
dalam peletakan akor. Nah, untuk kamu yang belum tahu: keyboard dan piano itu
berbeda. Kalau piano (atau piano akustik) itu dimainkan tanpa energi listrik
karena berasal dari getaran senar, lain halnya dengan keyboard, yang
menggunakan listrik sebagai sumber tenaga. Selain itu, yang saya tahu sih,
piano itu saat dimainkan, tuts-nya terasa lebih berat dari keyboard. Saya tak
banyak tahu pasti soal perbedaan kedua alat musik ini, jadi untuk info yang
lebih akurat, kamu bisa googling dengan kata kunci: perbedaan piano dan
keyboard. Hehehe.
Jadi, mata pelajaran Piano
Wajib ini adalah mata pelajaran yang mewajibkan kami, siswa seni musik SSB
untuk setidaknya bisa memainkan piano, walau hanya dasar-dasarnya saja. Akan
tetapi, materi untuk Piano Wajib tak sedangkal tujuannya. Bahasa musik, yaitu
partitur, tetap menjadi santapan kami. Pak Boris adalah guru untuk mata
pelajaran ini saat kelas satu. Beliau adalah wakil kepala sekolah, yang juga
merupakan pengajar yang disegani di jurusan seni musik tradisional. Tergolong
guru yang galak, karena sering merazia rambut kami-kami yang gondrong. Haha.
Meski begitu, sebenarnya beliau adalah sosok yang humoris. Wajah Pak Boris
mengingatkan saya pada salah satu tokoh di film Face Off.
Mata pelajaran ini dijumpai
oleh kami sebanyak satu kali dalam seminggu. Tugas untuk mata pelajaran ini
adalah mempelajari penjarian dasar, dan membaca sekaligus memainkan lagu
sederhana dengan etude nya sehingga
meskipun lagunya sederhana, tetap saja akan menjadi rumit. Hahaha. Kami juga
mendapat fotokopian partitur lagu yang dijadikan materi mata pelajaran Piano
Wajib. Lagu tersebut adalah You Raise Me Up, yang dipopulerkan oleh Josh
Gorban.
Yang kedua adalah ensembel.
Salah satu mata pelajaran “penjegal” kenaikan kelas, khususnya bagi mereka yang
tak punya kemampuan mumpuni dalam memainkan alat musik. Jangan sekali-kali
mengira anak seni musik SSB semuanya mahir memainkan alat musik. Meski mungkin
pernyataan itu tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar, tapi mau mahir
atau tidak, kalau nilai ensembel jeblok, ya tetap saja mereka tak bisa naik
kelas. Guru pada mata pelajaran ini adalah Sonjaya Seriosa. Saya sendiri masih
bingung bagaimana akhirnya Sonjaya bisa menjadi guru kepala untuk mata
pelajaran ini dan di tahun debutnya sebagai guru, karena pada pertemuan
pertama, statusnya hanya sebagai asisten Pak Pram. Konsepnya mirip seperti di
tingkat perguruan tinggi. Mata pelajaran ini diampu oleh Pak Pram, dan Sonjaya
hadir sebagai pendamping Pak Pram atau pengganti sementara jika Pak Pram
berhalangan hadir. Konsep dosen dan asisten dosen lah. Namun, itu hanya
berjalan selama satu bulan. Pak Pram yang menjadi guru pengampu, tak lagi
mengajar ensembel pada bulam kedua. Posisinya digantikan oleh Sonjaya dan
dirangkap oleh kehadiran guru baru yang merupakan gitaris metal kenamaan di
Bandung: Andre Darmana.
Ensembel, sejatinya adalah
bersama-sama. Tentu, itu merupakan penjelasan saya menggunakan logika yang amat
dangkal. Hehe. Kalau kamu main-main ke fakultas seni di beberapa perguruan
tinggi yang ada jurusan seni musik-nya, biasanya akan ada satu waktu dimana
mahasiswa membuat sebuah pagelaran ensembel alat musik; ensembel gitar,
misalnya. Dikatakan ensembel karena dalam sebuah pagelaran tersebut terdapat
banyak pemain gitar (bisa 5, 7, 14 atau mungkin 20 pemain gitar) yang memainkan
satu komposisi lagu secara bersamaan.
Namun, ensembel dalam mata
pelajaran di seni musik SSB tentu berbeda dengan konsep ensembel alat musik
yang tadi saya jelaskan. Ensembel di sekolah saya adalah ensembel combo band,
yang mana mata pelajaran ini menuntut siswa untuk bisa memainkan combo band
dengan benar.
Sedikit informasi, combo
band adalah (bahasa sederhananya) bermain band. Namun, bermain band disini
bukan sekadar bermain band yang brang
breng brong begitu. Ada pakem-pakem yang harus dipatuhi oleh siswa seni
musik SSB dalam memainkan combo band. Salah satunya adalah menuliskan partitur
dari materi yang akan dibawakan.
Untuk siswa kelas satu,
penulisan partitur belum diberlakukan. Para siswa hanya ditugaskan menulis skor
untuk materi yang akan dibawakan. Dalam satu bulan, ada dua genre musik yang wajib dibawakan oleh
siswa dalam mata pelajaran ini. Definisi dari dibawakan ini adalah disajikan
atau dimainkan di ruang praktek, dan tak lupa mengumpulkan skor atau partitur.
Mata pelajaran ini dijumpai
oleh siswa satu kali dalam seminggu. Minggu pertama adalah pengenalan genre
musik, minggu keduanya praktik dan penilaian. Jika rata-rata siswa lancar dalam
praktik ensembel di minggu kedua, maka di minggu ketiga bisa dilanjut ke
perkenalan genre musik berikutnya,
dan dilanjut praktik lagi di minggu keempat. Begitu kurang lebih Rencana Studi
di mata pelajaran ini, meski pada kenyataannya di lapangan, tak sedikit juga
siswa yang akhirnya membuat rencana studi yang dirancang molor dari waktu
target awal. Hahaha.
Sedikit informasi mengenai
partitur atau skor. Mungkin nama partitur tak asing bagi kamu yang sekalipun
itu awam tentang musik. Saya sarankan untuk googling saja jika kamu ingin
mengetahui arti partitur dalam versi yang lebih benar. Penjelasan sederhana
saya: partitur adalah transkip komponen lagu ke dalam bentuk teks atau simbol
bahasa musik. Partitur identik dengan not balok dan simbol birama, ketukan,
atau ritmis dan bahasa musik lainnya. Sedangkan skor adalah transkip progresi
akor dalam lagu yang dituangkan kedalam bentuk teks dan simbol. Saya rasa, di
internet sudah cukup banyak contoh skor musik untuk dilihat. Hehe.
Mata pelajaran berikutnya
adalah Mayor atau Pilihan Kompetensi (PK). Karena singkatan PK kadung
berkonotasi negatif di kalangan orang-orang kita yang jika saya tulis akan
menimbulkan salah persepsi pembaca, maka mata pelajaran ini saya sebut Mayor.
Di level perguruan tinggi, pilihan kompetensi biasa disebut Mayor.
Saya mengambil mayor gitar
elektrik di jurusan seni musik SSB. Lagi-lagi saya harus menjelaskan lagi ya,
haha: dalam seni untuk konteksnya akademik, instrumen gitar itu dibagi menjadi
dua; klasik dan elektrik. Jika jurusan seni musik-nya adalah musik popular,
maka mayor untuk anak yang bisa dipilih
biasanya adalah gitar elektrik. Ada juga jurusan seni musik klasik, yang
didalamnya ada mayor gitar klasik. Hal yang sama juga berlaku untuk beberapa
instrumen yang menjadi mayor di tiap jurusan seni musik.
Jurusan seni musik di SSB
sendiri adalah seni musik non klasik (belakangan, saya dengar berubah istilah
menjadi seni musik popular). Itu yang membuat pilihan mayor di SSB adalah
instrumen musik yang memang menjadi kebutuhan produksi musik popular (alat
band). Hal berbeda terjadi di Sekolah Seni Yogyakarta (SSB-nya Yogyakarta)
memiliki jurusan yang berbeda dengan kami. Mereka “menganut paham” musik
klasik, sehingga mayor yang tersedia bagi siswanya mungkin sedikit banyaknya
berbeda dengan kami.
Di jurusan seni musik
klasik, mungkin kamu bisa menemukan mayor seperti piano akustik biola, cello,
flute, clarinet, contrabass, atau perkusi. Menurut logika dangkal saya, alat
musik itu adalah kelompok alat untuk kebutuhan musik klasik dan orkestra. Untuk
perbedaan kedua jurusan di seni musik ini, kamu bisa mencarinya di internet.
Hanya yang saya tahu, ada perbedaan displin atau etude dalam mengkaji instrumen di dua jurusan ini.
Kembali ke mata pelajaran,
masih ada dua mata pelajaran normatif untuk tingkat satu; solfegio dan teori
musik. Sebagian menyingkatnya dengan TDM atau Teori Dasar Musik. Saya yakin,
kamu pasti sudah punya gambaran mengenai mata pelajaran TDM, dan kamu pasti
berpikir kalau mata pelajaran ini mendalami hal yang tak jauh dari dasar-dasar
musik. Hehe. Kalau itu yang kamu bayangkan, maka dugaanmu benar. TDM adalah
mata pelajaran yang menuntut siswa SSB untuk mengetahui dasar-dasar musik,
namun secara teoritis.
Guru mata pelajaran ini
adalah Ibu Icih Astuti. Guru senior yang begitu baik yang nantinya akan
menggantikan Harta sebagai ketua jurusan. Saya tak menemui kesulitan berarti
selama dua semester mempelajari TDM, karena memang pembelajarannya hanya
berkisar soal istilah-istilah didalam bahasa musik saja. Mata pelajaran dasar
ini pulalah yang membantu saya dalam memahami mata pelajaran lainnya.
Yang terakhir, ini pasti
namanya agak asing untuk kamu yang tak belajar musik secara akademis; ya,
solfegio. Mata pelajaran ini, kurang lebih, menuntut siswa SSB mempertajam
pendengaran atau hearing mereka.
Awalnya, kami diperkenalkan pada not balok dari mulai harga not, jenis birama,
arti sukat, dan lain sebagainya. Jika kamu sudah mahir dalam mata pelajaran
ini, kamu tak akan kesulitan dalam mempelajari lagu-lagu yang kompleks karena
sudah bisa menebak apa saja pola nada yang dimainkannya. Saya cukup lemah di
mata pelajaran ini. Maklum, saya belajar gitar dari nol, dan memang menjadi
calon juru kunci untuk konteks bobot akademik di SSB. Hahaha. Bagi kamu yang
ingin mengetahui lebih dalam mengenai solfegio, saya rasa tak ada salahnya
setelah ini kamu membuka YouTube. Disana ada banyak tutorial mengenai solfegio,
yang semoga bermanfaat untuk kebutuhan latihan bermusikmu.
Kenapa saya selalu
mengarahkan pembaca yang budiman untuk rajin membuka internet (khususnya untuk
istilah-istilah musik dalam tulisan ini?) karena saya tak ingin kamu minim
sumber. Meski lulusan sekolah musik, saya masih merasa miskin sumber dalam
membedah musik, sehingga saya rasa membandingkan isi tulisan saya dengan sumber
lain pun tak masalah jika kamu tertarik menguliknya lebih dalam. Hehehe.
Oke, kembali lagi. Untuk
mata pelajaran tingkat satu, itulah dia daftar mata pelajaran normatif yang
menghantui tidur saya 7 kali 24 jam. Hahaha. Saya minta maaf kalau di
sub-fragmen ini, hampir tak ada dinamika dalam catatan saya, karena tujuan dari
sub-fragmen ini adalah sebagai “kamus” jika kamu mengalami kebingungan saat
membaca cerita ditengah-tengah nanti. Untuk kamu yang melewati sub-fragmen ini
sampai selesai, saya rasa kamu tak akan merasa bingung saat menemukan istilah
mata pelajaran yang aneh di sub-fragmen berikutnya.
Masih ada beberapa mata
pelajaran lagi yang harus saya jelaskan sebenarnya, bagaimana ya? Baiknya saya
jelaskan sekarang atau di sub-fragmen berikutnya ya? Hehe. Sebentar, saya
diskusi dulu dengan penyunting buku.
****
Setelah berdiskusi dengan
penyunting, maka keputusan pun diambil: saya akan menjelaskan satu-persatu sisa
mata pelajaran yang belum saya jelaskan. Jadi di fragmen berikutnya, saya tak
perlu mengulang lagi, ya. Di tingkat dua, mata pelajaran normatif tidaklah
berkurang, justru bertambah! Hahaha. Ada mata pelajaran Harmoni SATB, MIDI, Musik
Daerah, dan Penampilan. Pergantian mata pelajaran baru terjadi di tingkat tiga,
dimana mata pelajaran solfegio, piano wajib, dan musik daerah sudah selesai.
Namun ada dua mata pelajaran tambahan, yakni Wawasan Musik dan Analisa Lagu.
Saya tak mengerti apakah
seluruh mata pelajaran itu terlalu berat atau tidak untuk ukuran anak SMA,
hanya saja setelah menjadi alumni, saya merasa sedikit lebih keren dari
teman-teman lain yang belajar Geografi, Sosiologi, Kimia, atau Fisika. Meski
nama mata pelajaran itu terlihat keren, namun saya rasa tak sekeren mata
pelajaran di jurusan Seni Musik. Hahaha, duh… Saya jadi besar kepala!
Oke, kembali lagi. Di
tingkat dua, kami mempelajari Harmoni SATB. Lagi-lagi saya tak merekam dengan
baik definisi Harmoni SATB saat belajar di sekolah. Namun, yang saya tangkap,
mata pelajaran ini menuntut kami untuk mempelajari pemecahan-pemecahan suara
dalam reprotoar. Pernah lihat format bigband manggung? Nah, ada beberapa unsur
alat musik disana. Misalnya unsur gesek atau alat musik gesek. Kita persempit
lagi alat gesek ini menjadi satu alat: violin atau biola. Nah, entah pernyataan
saya ini jitu atau tidak, karena saya tak pernah ikutan bigband, pemain biola
yang sampai lebih dari lima orang itu memainkan nada yang berbeda-beda, namun
tetap merupakan keluarga dari tonal nada si lagu tersebut.
“Rumus” pembagian
nada inilah yang dipelajari dalam Harmoni SATB. Disini, saya jadi tahu komponen
akor, interval akor, dan pemecahan suara. Sebelumnya mengenai interval memang
sempat dibahas di TDM, namun hanya sekilas saja. Nah, di Harmoni SATB ini,
seperti ada spesifikasi khusus dari pembelajaran TDM yang dianggap terlalu
umum.
Guru Harmoni SATB adalah Pak
Pram. Ya, guru ensembel saat tingkat satu. Namun seperti biasa, “rezim” Pak
Pram selalu berjalan tak sampai tamat. Di semester kedua, posisinya digantikan
guru baru: Kang Arbi, yang merupakan keyboardist session di grup band ska
ternama di Bandung: ya, Bandung Itudia Orkestra! Hehe. Selengkapnya tentang
Kang Arbi dan pelajaran Harmoni SATB mungkin akan kamu jumpai di fragmen
berikutnya.
Mata pelajaran berikutnya di
tingkat dua adalah MIDI. Sebagian dari kamu-kamu, mungkin pernah membaca
istilah ini di internet atau mendengarnya dari obrolan ke obrolan. MIDI adalah
singkatan dari Music Instrumen Digital
Interface. Bagi kamu yang anak band, saat hendak merekam demo lagu namun
tak punya biaya yang cukup untuk merekam drumnya secara live, pasti dari pihak studio itu diberi opsi lain yang istilahnya,
“Mau drum-nya pakai MIDI enggak?”
Manfaat yang terasa bagi
lulusan seni musik SSB jika ia menekuni mata pelajaran MIDI ini diluar kelas
adalah: memangkas biaya produksi musik. Ya! Kamu bisa merekam demo di laptopmu.
Sedikit mengenai mata
pelajaran ini, kami diajarkan bagaimana caranya membuat home recording atau mungkin bedroom
recording. Mungkin kamu kenal musisi Adhitia Sofyan, kan? Nah, beliau
adalah musisi yang merekam karya-karyanya di kamar kreatifnya. Disinilah
manfaat dari mata pelajaran MIDI, walau Adhitia bukanlah lulusan SSB. Hehe.
Jadi intinya, hasil mata
pelajaran MIDI adalah para siswa diharapkan bisa mengaplikasikan produksi musik
melalui perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat kerasnya sudah tentu
laptop atau komputer, sedangkan perangkat lunaknya bervariasi. Saat itu, kami
mempelajari perangkat lunak keluaran Steinberg, yakni Cubase dan Nuendo. Meski
kami juga sempat dikenalkan pada perangkat lunak Cakewalk dan Fruity Loops.
Di tingkat dua, tak
tanggung-tanggung kami memiliki guru yang, saya pribadi, menghormatinya. Ya:
ayah Mario. Masih ingat cerita saya saat test di jurusan seni musik? Ya, salah
satu pengujinya itu yang menjadi guru kami. Walau belakangan, Ayah memutuskan
hengkang dari SSB karena ada permasalahan internal. Di semester kedua, posisi
Ayah digantikan oleh Andre sampai mata pelajaran MIDI dinyatakan tuntas di
tingkat tiga semester satu.
Sementara itu mata pelajaran
penampilan sebenarnya adalah pelajaran yang menurut saya tak ada kaitannya
dengan vokasi seni musik non klasik. Di mata pelajaran ini, kami diminta untuk
membuat target jangka panjang dan target jangka pendek. Menurut saya, pelajaran
ini adalah upaya Harta untuk lebih dekat dengan muridnya saja. Harta adalah
guru mata pelajaran ini.
Berbeda dengan angkatan
kami, angkatan Dayuh (satu angkatan diatas saya) tak mendapat mata pelajaran
penampilan ini. Yang ada di angkatan mereka adalah mata pelajaran TTP atau Tata
Panggung, dan langsung dipimpin oleh seniman sunda Pak Jajang sebagai gurunya.
Bicara soal seniman sunda,
kami sebagai calon praktisi seni musik juga mendapatkan mata pelajaran Musik
Daerah di kelas dua. Output untuk
mata pelajaran ini adalah agar kami mengenal musik dari daerah kami menimba
ilmu. Banyak hal yang saya dapatkan dari mata pelajaran ini. Terutama bagaimana
menggabungkan dua unsur musik: modern dan tradisional daerah tanpa merusak estetikanya.
Untuk mata pelajaran ini, saya kembali berjumpa dengan Bu Icih, seniman sunda
cukup senior di kalangan pendidikan.
Di tingkat ketiga, ada dua
mata pelajaran baru yakni Wawasan Musik dan Analisa Lagu. Ekspektasi saya akan
kedua mata pelajaran ini ternyata tak sesuai realitanya. Di mata pelajaran
Wawasan Musik, yang diajar oleh Harta, kami hanya diberi selebaran fotokopian
majalah Musik Buzz dari Rolling Stone Indonesia dan disuruh mempelajarinya di
rumah. Sementara pelajaran Analisa Lagu ditiadakan karena Pak Pram sudah
hengkang. Terbengkalainya dua mata pelajaran ini juga disebabkan program magang
di awal tingkat tiga, dan persiapan Tugas Akhir.
***
Mata pelajaran itulah yang
menghantui kami (khususnya saya) siswa seni musik SSB selama enam semester
alias tiga tahun. Saat teman-teman seusia kami disibukkan dengan hobi basket,
hobi bongkar motor, hobi bermain game
virtual atau sekadar PlayStation, kami tak mengenal istilah itu.
Termasuk saya, di awal-awal
sekolah di SSB. Belakangan (dan efek pergaulan diluar sekolah) saya menyadari
kalau menjadi layaknya anak SMA itu jauh lebih penting ketimbang menjadi the best player atau murid terbaik.
Dengan dalil ‘tak mau lagi tercebur ke jurusan sama kalaupun saya lulus dari
SSB,’ maka saya memilih tak begitu fokus mempelajari semua mata pelajaran dan
mengalihkan referensi (khususnya referensi bermusik saya) di luar sekolah saja.
Yah, setidaknya begitu…