Selasa, 19 Januari 2016

Obrolan Sebelum Maghrib.

Menjelang matahari terbenam, aku dan tiga orang terlibat percakapan santai. Dua orang lelaki, aku, dan seorang wanita. Entah aku yang terjebak, entah memang ini berjalan seperti seharusnya. Hanya sebelumnya, aku tak menyangka kehebatan gambar benar-benar membuatku jatuh hati. Apa aku gila selama berbulan-bulan ini memuja gambar? Dan tak seorang temanpun kuberitahu tentang hal ini.

Gambar wanita yang kupuja-puja dibelakang semesta kini duduk persis dihadapanku. Sesekali matanya menatapku. Kami duduk dalam satu meja. Dua berhadapan dengan dua. Disebelah kananku ada seorang lelaki yang baru kukenal beberapa menit lalu. Dan disebelah kiri wanita itu, ada seorang lelaki (yang juga baru kukenal sekian menit lalu) duduk. Posisinya berhadapan dengan lelaki di sebelah kananku.
Sepanjang alur cerita kami satu persatu, ku perhatikan wanita itu menyingkap rambutnya yang menutupi mata kanannya. Sesekali pula dia tertawa karena guyonan dua orang lainnya. Aku menjadi penerka diantara mereka. Seperti mimpi rasanya. Aku enggan bicara. Ogah terlihat dungu, lebih baik ku menatapnya saja. Menikmati detik per detiknya.

Saat ia mulai bercerita, aku memperhatikan lebih serius. Lihat cara dia bertutur, oh sungguh menakjubkan! Aku merekam detik-detik itu sebaik-baiknya. Kalau-kalau nanti dia pergi untuk waktu yang lama, setidaknya aku bisa memutar kembali dalam ingatanku tentang senja itu.

Dengar! Ia bercerita tentang gudang imajinasinya, alur hidupnya, terakhir kisah cintanya. Tidak semua memang. Tapi setidaknya aku punya gambaran, syarat apa yang harus ku punya kalau-kalau hati ini tak tahan lagi ingin memilikinya?
………..
“Sebelum sama dia, aku sempet sama cewek juga!” ceritanya.
Dor! Seketika hancurlah semua harapanku.
………..
Ternyata ceritanya belum selesai, ia melanjutkan sejenak.

Titik cerah itu muncul kembali dari lanjutan ceritanya. Percayalah, Tuhan Maha-pemilik alur cerita menarik..