Semenjak saya merasa kungkungan itu makin menjadi-jadi dan menekan saya,
saya seperti menjadi tahanan Bareskrim. Saya lebih sering menyendiri.
Sejak awal saya menginjak tempat ini pun saya tidak bisa bersosialisasi
dengan lingkungan internalnya.
"Maju kena, mundur kena", begitulah kurang lebih judul "wacana" saya.
Saya merupakan tipikal orang yang benci kungkungan, bullying (baik yang
bersifat mental, apalagi fisik) dan saya paling benci keramaian.
Keramaian hanya makin membuat saya merasa sendiri karena saya tidak akan
bisa terlibat didalamnya.
Kebersamaan? Itu bullshit bagi saya! Kebersamaan hanya akan terjadi jika
pihak X dengan Z sedang dalam posisi yang sama; baik sedih maupun
senang. Jika yang satunya sedih, yang satunya senang, maka kebersamaan
itu tidak akan ada. Begitupula sebaliknya. Orang terdekat pun akan
menjadi rival suatu saat nanti.
Sudah lama saya tidak menemukan kesenangan dan kepuasan dalam
mendengarkan, mempelajari atau membuat sebuah lagu seperti beberapa
tahun ke belakang. "Apa saya harus berdiskusi guru?" itu adalah
pertanyaan manusia tolol kelas berat yang kerjaannya hanya mencari muka.
Saat seperti ini, berdiskusi dengan guru hanyalah membuat saya
tersudut. Guru tidak akan memberi saya input, yang ada hanya mencaci
maki halus saya, menyindir, menyudutkan dan terus mendesak saya agar
mundur dari sini. Semua planning saya hanya "wacana" di mata tuan puan
yang terhormat. Kerja keras saya tidak ada lebihnya dari harga selembar
kertas HVS yang dipenuhi goresan tinta lalu menjadi bagian dari sampah
rongsokan yang nantinya dihargai tiga ribu rupiah perkilonya.
"Apa saya harus bersandar di pundak sahabat?" Sahabat? Apa? Sahabat? Apa
saya masih punya sahabat? Apa masih ada yang mau berteman dengan saya?
Bersandar di pundak sahabat hanya akan membuat saya merasa tersalahkan.
Membuat saya terhakimi karena keterbatasan kemampuan saya.
"Apa saya membutuhkan psikolog?" Hah? Lalu untuk apa? Psikolog hanya
akan memberi saya vonis tanpa bisa membalaskan dendam saya yang sudah
berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan dan sampai bertahun-tahun belakangan
ini. Sesuatu yang sudah terunggah lama dari dasar perut mual saya.
Rumah pun seakan-akan menjadi tempat yang saya rindukan, walaupun saya
tidak betah lama-lama disana. Bukan berarti saya anak liar yang biadab,
tetapi suasana dirumah itulah yang membuat saya enggan balik lagi
kesini. Sedangkan saya baru setengah jalan disini.
"Makin jelas!!!" hanya kata itulah yang akan jelas ditengah
ketidakjelasan arah ini, ditengah bokbroknya kualitas proses ini,
ditengah kepuasan tuan puan yang terhormat dalam membully dan
menjatuhkan mental saya, ditengah asyiknya mereka-mereka yang mencari
muka dan pasang badan untuk jabatan, dan ditengah proses hancurnya harga
diri dan mental mereka yang tersudutkan.
Dendam. Ya, dendam. Lalu kenapa? Salahkah saya apabila menjadi seorang
pendendam? Kalau harus menunggu balasan di akherat, selain kelamaan,
kita juga belum tentu kita melihat sendiri mereka yang menghina kita
disiksa dan sakit-sakitan dihadapan kita. Sedangkan itu yang sejak dulu
saya harapkan.
Keadilan? Ya, keadilan bagi mereka yang bisa dengan mudah dibentuk menjadi busuk.
Terimakasih untuk malam ini, banyak yang seharusnya saya utarakan. Itu
hanya akan membuat saya mendapat empati dari mereka, namun mendapat
hujatan pula dari yang lainnya.
Maka lebih baik saya diam...
Bukan diam untuk kalah, tetapi diam untuk menunggu saatnya saya akan menjungkalkan keadaan ini...