Minggu, 16 Juni 2013

Makin Jelas!!! (re-post 10-04-2013)

Semenjak saya merasa kungkungan itu makin menjadi-jadi dan menekan saya, saya seperti menjadi tahanan Bareskrim. Saya lebih sering menyendiri. Sejak awal saya menginjak tempat ini pun saya tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan internalnya.



"Maju kena, mundur kena", begitulah kurang lebih judul "wacana" saya. Saya merupakan tipikal orang yang benci kungkungan, bullying (baik yang bersifat mental, apalagi fisik) dan saya paling benci keramaian. Keramaian hanya makin membuat saya merasa sendiri karena saya tidak akan bisa terlibat didalamnya.

Kebersamaan? Itu bullshit bagi saya! Kebersamaan hanya akan terjadi jika pihak X dengan Z sedang dalam posisi yang sama; baik sedih maupun senang. Jika yang satunya sedih, yang satunya senang, maka kebersamaan itu tidak akan ada. Begitupula sebaliknya. Orang terdekat pun akan menjadi rival suatu saat nanti.

Sudah lama saya tidak menemukan kesenangan dan kepuasan dalam mendengarkan, mempelajari atau membuat sebuah lagu seperti beberapa tahun ke belakang. "Apa saya harus berdiskusi guru?" itu adalah pertanyaan manusia tolol kelas berat yang kerjaannya hanya mencari muka. Saat seperti ini, berdiskusi dengan guru hanyalah membuat saya tersudut. Guru tidak akan memberi saya input, yang ada hanya mencaci maki halus saya, menyindir, menyudutkan dan terus mendesak saya agar mundur dari sini. Semua planning saya hanya "wacana" di mata tuan puan yang terhormat. Kerja keras saya tidak ada lebihnya dari harga selembar kertas HVS yang dipenuhi goresan tinta lalu menjadi bagian dari sampah rongsokan yang nantinya dihargai tiga ribu rupiah perkilonya.

"Apa saya harus bersandar di pundak sahabat?" Sahabat? Apa? Sahabat? Apa saya masih punya sahabat? Apa masih ada yang mau berteman dengan saya? Bersandar di pundak sahabat hanya akan membuat saya merasa tersalahkan. Membuat saya terhakimi karena keterbatasan kemampuan saya.

"Apa saya membutuhkan psikolog?" Hah? Lalu untuk apa? Psikolog hanya akan memberi saya vonis tanpa bisa membalaskan dendam saya yang sudah berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan sampai bertahun-tahun belakangan ini. Sesuatu yang sudah terunggah lama dari dasar perut mual saya.

Rumah pun seakan-akan menjadi tempat yang saya rindukan, walaupun saya tidak betah lama-lama disana. Bukan berarti saya anak liar yang biadab, tetapi suasana dirumah itulah yang membuat saya enggan balik lagi kesini. Sedangkan saya baru setengah jalan disini.

"Makin jelas!!!" hanya kata itulah yang akan jelas ditengah ketidakjelasan arah ini, ditengah bokbroknya kualitas proses ini, ditengah kepuasan tuan puan yang terhormat dalam membully dan menjatuhkan mental saya, ditengah asyiknya mereka-mereka yang mencari muka dan pasang badan untuk jabatan, dan ditengah proses hancurnya harga diri dan mental mereka yang tersudutkan.

Dendam. Ya, dendam. Lalu kenapa? Salahkah saya apabila menjadi seorang pendendam? Kalau harus menunggu balasan di akherat, selain kelamaan, kita juga belum tentu kita melihat sendiri mereka yang menghina kita disiksa dan sakit-sakitan dihadapan kita. Sedangkan itu yang sejak dulu saya harapkan.

Keadilan? Ya, keadilan bagi mereka yang bisa dengan mudah dibentuk menjadi busuk.

Terimakasih untuk malam ini, banyak yang seharusnya saya utarakan. Itu hanya akan membuat saya mendapat empati dari mereka, namun mendapat hujatan pula dari yang lainnya.
Maka lebih baik saya diam...

Bukan diam untuk kalah, tetapi diam untuk menunggu saatnya saya akan menjungkalkan keadaan ini...