Minggu, 16 Juni 2013

#kontemplasi

Sheila on 7 menggema dikepala saya, saya putar keras-keras di speaker laptop. Mengingatkan saya akan masa kecil. Juga tentang yang lainnya. Dia sejenak berhenti, lalu berharap malam tanpa batas. Dia terus mencari jalan keluar.


LAMA saya memendam satu hal yang sudah sekian lama terunggah dari batin saya. Saya sempat ceritakan siapa orang yang sudah membuat saya benar-benar merasa bingung, merasa kalau kepala ini hendak meledak. Bukan, bukan karena sosoknya yang anggun atau rupawan, bukan itu. Karena kejeniusannya, prestasinya, dan semua tentangnya yang membuat saya makin merasa tidak ada apa-apanya bila membandingkan diri dengannya. Berjam-jam saya merenung dan berkontemplasi untuk memikirkan siapa yang salah, siapa yang benar dan siapa yang menang dalam hal ini. Tapi memang saya tidak akan menemukannya. Dalam cinta, tidak ada siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang menang ataupun siapa yang kalah. Satu pertanyaan saya: apa dia merasakan hal itu?

Saya pernah bercerita tentang kepiawaiannya bermusik. Saya juga pernah mengutarakan rasa kecemburuan saya terhadap kepiawaian teman-temannya dalam hal yang sama. Hanya itu satu-satunya bahasa yang secara logis bisa mendekatkan seseorang dengan dia. Saya bukan penyair yang bisa melambungkannya ke atas awan lewat tulisan-tulisan saya. Saya juga tidak serupawan vampire di tokoh salah satu film fenomenal dunia belakangan ini. Saya hanya remaja biasa, yang hidup dalam kesederhanaan, tetapi saya mengaguminya, saya simpatik terhadapnya, bahkan bisa dibilang saya mencintainya. Saya pernah membaca di sebuah buku psikologi popular kalau kita menyukai seseorang itu ada batas waktunya, sekitar 16 minggu atau kurang lebih empat bulan. Apabila masuk minggu ke-17 itu masih sama, artinya kita benar-benar mencintainya.

Lalu bagaimana jika 16 minggu itu dikalikan dengan beberapa bilangan? Dikali dua, tiga, atau seterusnya? Artinya, kalau lebih dari 16 minggu saja itu bisa dikatakan saya mulai mencintainya, bagaimana jika angka 16 itu dikalikan dua atau tiga? Apakah masih dinamakan cinta? Entah, saya masih belum mengerti ini namanya apa.

Begitu banyak hal yang menjembatani antara saya dan dia. Pertama, usia dia empat tahun diatas saya. Dari jumlah usianya saja saya sudah kalah. Dari kemampuan, jauh sekali dia diatas saya. Lalu apa yang bisa saya berikan untuk membuatnya bertanya? Bertanya mengapa saya bisa, bertanya bagaimana caranya atau sekadar bertanya untuk mengetahuinya? Dia tipe penjawab yang terlihat enggan menanyakan sesuatu. Tidak seperti saya yang selalu bertanya semua tentangnya.

Terlalu lama saya pikir melewati ini sendiri…
Suatu saat nanti saya akan mengungkapkannya…
Atau mungkin memilikinya…
Juga mungkin terbuang jauh dari hari-harinya…