Ir.pm. Mendengar nama tersebut seperti mendengar sebuah kode rahasia.
Juga seperti perkumpulan organisasi formal. Meski pada kenyataannya hal
tersebut jauh dari apa yang dimaksud.
Ir.pm itu sendiri memiliki makna yang bisa dibilang mencolok menurut
saya. Saya mendapat nama ini setelah saya mengalami tindak diskriminasi
yang luar biasa di lingkumgan pergaulan saya. Arti dari Ir.pm itu
sendiri adalah Ikatan Remaja Pasukan Minoritas (Independent Republic
Personal of Musician) mungkin versi bahasa Inggrisnya rancu, namun
abaikan sajalah.
Diskriminasi yang sangat luar biasa yang saya dapatkan dari lingkungan,
yang katanya lingkungan pendidikan, namun dipenuhi dengan kungkungan dan
segudang masalah apabila kita tidak patuh terhadap "tuan puan gila
hormat" inilah yang membuat lingkungan ini seperti lingkungan Bareskrim
dan kami-kami sebagai tahanannya.
Beberapa diantara kami digolongkan menjadi empat golongan berdasarkan
pengamatan saya. Mungkin penggolongan empat jenis manusia ini akan
berlaku dimana saja, namun, ya beginilah kurang lebihnya:
1. Kaum A
Blok A ini berisi mereka-mereka yang pintar, berwibawa, berakhlak baik,
disenangi guru dan berprestasi. Si A ini akan patuh dengan apapun
kebijakan yang ada di lingkungan. Pakaiannya selalu rapi dan wangi,
mereka mengenakan sepatu pantofel yang tiap paginya disemir dan mengenakan sabuk sekolah yang ditonjolkanlah almamater
sekolah yang terdapat di batok sabuknya. Demikian pula dengan gaya
rambutnya yang lebih rapi, dibelah dua atau belah pinggir. Mereka
merupakan kategori yang kadang menyebalkan tetapi bisa membantu kita.
2. Kaum B
Blok B ini berisi mereka-mereka yang senang memberontak. Pakaiannya
pernah rapi. Mereka kebalikannya dari Kaum A. Mereka senang
menyelesaikan masalah dengan keributan. Tetapi meski mereka demikian,
Kaum B akan lebih menghormati siapapun yang menghormati mereka. Dan
solidaritas mereka terkadang bersifat tanpa batas.
3. Kaum AB
Selalu tahu update apa saja yang ada di lingkungan, selalu ingin
terlibat dan ingin dilibatkan dalam tiap masalah, pandai bermuka dua,
pandai mencuri simpati orang lain. Kaum AB ini adalah tipikal penjilat
yang harus diwaspadai. Apabila misalnya kaum A dan B sedang panas, maka
si AB ini akan berpura-pura alim dihadapan kaum A dan berpura-pura
garang dihadapan Kaum B. Saat ada satu masalah yang terpecahkan, kaum AB
selalu berkata seperti ini: "Iyalah gue juga tau, itu semua nggak akan
begini kalo nggak ada peran gue." Mereka juga pandai mencari muka
dihadapan siapapun dan selalu ingin terlihat smart walapun otaknya
seperti kacang polong yang kopong. Hati-hati apabila kita sedang punya clash dengan seseorang, jangan sampai kaum AB ini campur tangan. Karena dia bisa mengadu domba kita. Dan waspadai account social networks kita, sangat berpotensi bersar mereka men-stalk timeline twitter atau wall facebook kita sekadar ingin tahu gosip apa yang terjadi.
4. Kaum O
Kaum terakhir adalah mereka yang memang tersisihkan dari tiga kaum
diatas. Mereka berjumlah sedikit apabila sedang bergerombol. Bahkan tak
jarang mereka lebih asyik sendiri. Sekilas O ini hampir sama dengan AB
karena dua-duanya sama-sama cocok dengan golongan A dan B, bahkan antara
AB dan O pun akan cepat akrab bila disatukan. Namun, perbedaan kedua
golongan ini akan terlihat kontras apabila kita sudah mengenalnya lebih
dalam. Apabila AB lebih sering update tentang info terbaru hanya untuk
mencari eksistensi semata, maka O melakukan hal tersebut untuk membuat
planning untuk dirinya. Misalnya: ada kabar kalau sepulang sekolah
nanti, akan terjadi tawuran antara sekolah X dan sekolah Y. Keduanya
sudah janjian di suatu tempat. Menanggapi berita tersebut, kaum AB akan
sibuk mencari info agar mereka terlihat bak pahlawan yang jasanya akan
dikenang. Namun golongan O yang melakukan hal serupa yakni mencari info,
mereka punya tujuan yang baik: mencari tahu kapan, dimana dan bagaimana
tentang tawuran tersebut agar mereka bisa menghindar saat sepulang
sekolah nanti agar tidak melewati tempat kejadian perkara. Demikian pula
dalam keseharian, O ini lebih idealis, netral, tidak ambil pusing akan
apa yang terjadi di lingkungannya. Dan biasanya kehadiran si O ini
banyak tidak disukai oleh guru atau senior atau mungkin senior yang
diangkat jadi guru, karena kemampuan si O membaca gerak-gerik seseorang
bisa merusak kekuasaan. Lagipula si O ini tipikal yang tidak takut
ancaman. Kalah di lokasi A, maka dia akan balas dendam di lokasi B dan
seterusnya hingga "lawannya" benar-benar habis. Namun, kaum O akan
disenangi oleh tipikal guru atau senior yang easy going, yang lebih
terkesan rock n roll. Dari segi penampilan pun si O lebih idealis. Pembawaannya sederhana dan tidak terlihat bergerombol.
Dari keempat golongan tadi, posisi Ir.pm adalah posisi keempat atau
Golongan O. Ya, memang. Kami bukan preman namun bukan pula alim agama,
kami bukan pemberani, bukan pula pengecut, tetapi kami berani berkata
salah bila apa yang kami lihat salah dan berkata benar apabila yang kami
lihat benar. Kami juga bukan tipikal pencari muka atasan. Bagi kami
adalah hasil akhir (ijasah) akan lebih penting ketimbang gelar semata
dari guru. Kami juga merupakan tipe yang tidak disukai oleh senior atau
guru dengan style mengajar tempo 70an, yang menganggap dirinya adalah
bak malaikat. Sifat kami yang berani bersuara pada saat dia bersalah
itulah yang membuat kami seperti "penghalang" untuk mereka naik pangkat.
Itulah yang membuat kami riskan dibenci oleh guru yang demikian. Juga
senior, sifat kami yang anti terhadap bullying bisa menghapuskan kesan
sangar seorang senior yang mungkin menurut mereka harus tetap
dilestarikan sampai negara ini dijajah kembali, atau mungkin sampai
kiamat. Merasa kami akan menggagalkan misi itu, maka keberadaan kami
akan digencat agar tidak bersuara melawan ketidak adilan atau
diskriminasi. Bagi kami, bullying hanya akan membuat negara kita
akan terjajah lagi. Jangan coba-coba main-main dengan mental kalau
pengetahuan anda tentang mental masih dangkal. Bermain dengan mental
tidak bisa diukur dengan kepiawaian atau apapun itu.
Desakan kondisi yang menyudutkan saya, juga cerita-cerita dari
teman-teman seperjuangan saya itulah yang membuat saya terdorong untuk
menyelesaikan proyek tulisan ini. Konten dalam tulisan saya ini tidak
hanya saya sendiri yang mengisi. Kisah sahabat saya yang masuk dalam
kumpulan kisah "kami" disini juga akan mewarnai catatan saya.
Konsep Ir.pm yang nantinya akan seperti buku auto-biografi ini
rencananya akan saya buatkan juga dalam bentuk musikal. Dibantu dua
orang sahabat saya, Faris Qawiyyan dan Iqbal Ray Lesmana, saya berharap
konsep musikalnya akan senafas dengan tulisan saya, juga sumbangan
tulisan dari teman-teman. Konsep ini saya akui terkesan mirip dengan
novel rectoverso, namun setidaknya konten didalamnya yang kebanyakan
berisi cerita dan pemberotakan terhadap tekanan mental lah yang akan
menjadi benang merah dalam tulisan saya ini.
Besar harapan saya agar teman-teman bisa bergabung dengan saya dalam
proyek ini. Bergabung sebagai yang mendoakan kelancaran, mensupport saya
atau bahkan mengirim cerita dan kisah-kisahnya tentang diskriminasi
yang dialami di lingkungan.
Semoga gagasan saya ini bisa terealisasikan dan bisa menjadi faedah bagi yang membacanya. Amiiin.