Minggu, 16 Juni 2013

Ir.pm (Percobaan saya membentuk kelompok pelajar minoritas di sekolah)

Ir.pm. Mendengar nama tersebut seperti mendengar sebuah kode rahasia. Juga seperti perkumpulan organisasi formal. Meski pada kenyataannya hal tersebut jauh dari apa yang dimaksud.

Ir.pm itu sendiri memiliki makna yang bisa dibilang mencolok menurut saya. Saya mendapat nama ini setelah saya mengalami tindak diskriminasi yang luar biasa di lingkumgan pergaulan saya. Arti dari Ir.pm itu sendiri adalah Ikatan Remaja Pasukan Minoritas (Independent Republic Personal of Musician) mungkin versi bahasa Inggrisnya rancu, namun abaikan sajalah.



Diskriminasi yang sangat luar biasa yang saya dapatkan dari lingkungan, yang katanya lingkungan pendidikan, namun dipenuhi dengan kungkungan dan segudang masalah apabila kita tidak patuh terhadap "tuan puan gila hormat" inilah yang membuat lingkungan ini seperti lingkungan Bareskrim dan kami-kami sebagai tahanannya.

Beberapa diantara kami digolongkan menjadi empat golongan berdasarkan pengamatan saya. Mungkin penggolongan empat jenis manusia ini akan berlaku dimana saja, namun, ya beginilah kurang lebihnya:

1. Kaum A
Blok A ini berisi mereka-mereka yang pintar, berwibawa, berakhlak baik, disenangi guru dan berprestasi. Si A ini akan patuh dengan apapun kebijakan yang ada di lingkungan. Pakaiannya selalu rapi dan wangi, mereka mengenakan sepatu pantofel yang tiap paginya disemir dan mengenakan sabuk sekolah yang ditonjolkanlah almamater sekolah yang terdapat di batok sabuknya. Demikian pula dengan gaya rambutnya yang lebih rapi, dibelah dua atau belah pinggir. Mereka merupakan kategori yang kadang menyebalkan tetapi bisa membantu kita.

2. Kaum B
Blok B ini berisi mereka-mereka yang senang memberontak. Pakaiannya pernah rapi. Mereka kebalikannya dari Kaum A. Mereka senang menyelesaikan masalah dengan keributan. Tetapi meski mereka demikian, Kaum B akan lebih menghormati siapapun yang menghormati mereka. Dan solidaritas mereka terkadang bersifat tanpa batas.

3. Kaum AB
Selalu tahu update apa saja yang ada di lingkungan, selalu ingin terlibat dan ingin dilibatkan dalam tiap masalah, pandai bermuka dua, pandai mencuri simpati orang lain. Kaum AB ini adalah tipikal penjilat yang harus diwaspadai. Apabila misalnya kaum A dan B sedang panas, maka si AB ini akan berpura-pura alim dihadapan kaum A dan berpura-pura garang dihadapan Kaum B. Saat ada satu masalah yang terpecahkan, kaum AB selalu berkata seperti ini: "Iyalah gue juga tau, itu semua nggak akan begini kalo nggak ada peran gue." Mereka juga pandai mencari muka dihadapan siapapun dan selalu ingin terlihat smart walapun otaknya seperti kacang polong yang kopong. Hati-hati apabila kita sedang punya clash dengan seseorang, jangan sampai kaum AB ini campur tangan. Karena dia bisa mengadu domba kita. Dan waspadai account social networks kita, sangat berpotensi bersar mereka men-stalk timeline twitter atau wall facebook kita sekadar ingin tahu gosip apa yang terjadi.

4. Kaum O
Kaum terakhir adalah mereka yang memang tersisihkan dari tiga kaum diatas. Mereka berjumlah sedikit apabila sedang bergerombol. Bahkan tak jarang mereka lebih asyik sendiri. Sekilas O ini hampir sama dengan AB karena dua-duanya sama-sama cocok dengan golongan A dan B, bahkan antara AB dan O pun akan cepat akrab bila disatukan. Namun, perbedaan kedua golongan ini akan terlihat kontras apabila kita sudah mengenalnya lebih dalam. Apabila AB lebih sering update tentang info terbaru hanya untuk mencari eksistensi semata, maka O melakukan hal tersebut untuk membuat planning untuk dirinya. Misalnya: ada kabar kalau sepulang sekolah nanti, akan terjadi tawuran antara sekolah X dan sekolah Y. Keduanya sudah janjian di suatu tempat. Menanggapi berita tersebut, kaum AB akan sibuk mencari info agar mereka terlihat bak pahlawan yang jasanya akan dikenang. Namun golongan O yang melakukan hal serupa yakni mencari info, mereka punya tujuan yang baik: mencari tahu kapan, dimana dan bagaimana tentang tawuran tersebut agar mereka bisa menghindar saat sepulang sekolah nanti agar tidak melewati tempat kejadian perkara. Demikian pula dalam keseharian, O ini lebih idealis, netral, tidak ambil pusing akan apa yang terjadi di lingkungannya. Dan biasanya kehadiran si O ini banyak tidak disukai oleh guru atau senior atau mungkin senior yang diangkat jadi guru, karena kemampuan si O membaca gerak-gerik seseorang bisa merusak kekuasaan. Lagipula si O ini tipikal yang tidak takut ancaman. Kalah di lokasi A, maka dia akan balas dendam di lokasi B dan seterusnya hingga "lawannya" benar-benar habis. Namun, kaum O akan disenangi oleh tipikal guru atau senior yang easy going, yang lebih terkesan rock n roll. Dari segi penampilan pun si O lebih idealis. Pembawaannya sederhana dan tidak terlihat bergerombol.

Dari keempat golongan tadi, posisi Ir.pm adalah posisi keempat atau Golongan O. Ya, memang. Kami bukan preman namun bukan pula alim agama, kami bukan pemberani, bukan pula pengecut, tetapi kami berani berkata salah bila apa yang kami lihat salah dan berkata benar apabila yang kami lihat benar. Kami juga bukan tipikal pencari muka atasan. Bagi kami adalah hasil akhir (ijasah) akan lebih penting ketimbang gelar semata dari guru. Kami juga merupakan tipe yang tidak disukai oleh senior atau guru dengan style mengajar tempo 70an, yang menganggap dirinya adalah bak malaikat. Sifat kami yang berani bersuara pada saat dia bersalah itulah yang membuat kami seperti "penghalang" untuk mereka naik pangkat. Itulah yang membuat kami riskan dibenci oleh guru yang demikian. Juga senior, sifat kami yang anti terhadap bullying bisa menghapuskan kesan sangar seorang senior yang mungkin menurut mereka harus tetap dilestarikan sampai negara ini dijajah kembali, atau mungkin sampai kiamat. Merasa kami akan menggagalkan misi itu, maka keberadaan kami akan digencat agar tidak bersuara melawan ketidak adilan atau diskriminasi. Bagi kami, bullying hanya akan membuat negara kita akan terjajah lagi. Jangan coba-coba main-main dengan mental kalau pengetahuan anda tentang mental masih dangkal. Bermain dengan mental tidak bisa diukur dengan kepiawaian atau apapun itu.

Desakan kondisi yang menyudutkan saya, juga cerita-cerita dari teman-teman seperjuangan saya itulah yang membuat saya terdorong untuk menyelesaikan proyek tulisan ini. Konten dalam tulisan saya ini tidak hanya saya sendiri yang mengisi. Kisah sahabat saya yang masuk dalam kumpulan kisah "kami" disini juga akan mewarnai catatan saya.

Konsep Ir.pm yang nantinya akan seperti buku auto-biografi ini rencananya akan saya buatkan juga dalam bentuk musikal. Dibantu dua orang sahabat saya, Faris Qawiyyan dan Iqbal Ray Lesmana, saya berharap konsep musikalnya akan senafas dengan tulisan saya, juga sumbangan tulisan dari teman-teman. Konsep ini saya akui terkesan mirip dengan novel rectoverso, namun setidaknya konten didalamnya yang kebanyakan berisi cerita dan pemberotakan terhadap tekanan mental lah yang akan menjadi benang merah dalam tulisan saya ini.

Besar harapan saya agar teman-teman bisa bergabung dengan saya dalam proyek ini. Bergabung sebagai yang mendoakan kelancaran, mensupport saya atau bahkan mengirim cerita dan kisah-kisahnya tentang diskriminasi yang dialami di lingkungan.

Semoga gagasan saya ini bisa terealisasikan dan bisa menjadi faedah bagi yang membacanya. Amiiin.