Saya kini mulai sadar akan prinsip tepuk tangan. Kedua tangan manusia haruslah saling bersentuhan agar bisa menghasilkan bunyi. Sekuat apapun energinya kalau hanya satu tangan, mustahil akan terjadi bunyi. Begitupula sebaliknya, sekecil apapun energinya, apabila ada dua tangan yang bergerak, maka akan terjadi bunyi walau kecil.
Saya tidak perlu bercerita lebih lama lagi. Saya hanya sadar kalau banyak cerita yang belakangan ini tumbuh liar dalam imajinasi saya. Ada yang tertuang di media, ada yang saya simpan dalam "laci" kenangan saya dan sewaktu-waktu saya putar dalam ingatan. Saya ingat pernah takjub melihat kepiawaiannya, saya ingat pernah mengikuti hari-harinya. Namun, diantara banyak momen tadi, satu pertanyaan yang mengerucut ke permukaan adalah: "Siapa yang dengan sengaja membocorkan rahasia besar itu sehingga menjadi konsumsi publik dan terdengar oleh telinga yang dituju?"
Saya cukup lama merenungkan dan memikirkan jawabannya, setelah belakangan saya berjalan-jalan sendirian menggunakan motor kesayangan saya, akhirnya saya mendapatkan satu jawaban yang juga mengerucut: "Itu adalah jalan dari-Nya." Kejadian yang langsung menjauhkan dia dari kehidupan saya dan membuatnya tidak lagi terbuka akan sapaan saya sudah jelas merupakan pertanda kalau kejadian tersebut adalah jalan yang memang seharusnya terjadi dan saya memang seharusnya tidak akan sampai untuk menjamahnya. Entah karena dia jenius dan saya si tolol kelas berat yang hanya bisa menjadi pemimpi kelas atas yang berharap hari-hari saya akan dihiasi oleh sosok menakjubkan tersebut atau memang karena hal lainnya yang berjalan memang seharusnya seperti itu.
Saya hanya diremehkan, mungkin ditertawakan karena saya terlalu (mungkin) tolol, bodoh dan ingusan untuk menjaganyanya dengan segala kelebihannya diatas saya.
Inilah persimpangan, bukan akhir perjalanan. Saat saya sadar apa saya akan lurus terus atau belok kiri, kanan, atau mundur lagi kebelakang.
Persimpangan sebentar lagi menghabiskan waktunya
Meninggalkan senyumnya
Diatas seluruh kepiawaiannya
Diatas tawanya
Diatas segalanya
Memang seharusnya
Bukan, ini bukan akhir namanya
Ini hanya persimpangan
-Arai-